Minggu, 07 April 2013

Fallen into Love (3)


“Sebenernya udah dari kemarin aku sama kak Falen memang ada rencana mau nonton bareng. Supaya dapet kursi, mending kita mesen tiketnya dulu ya,”  jawab Tata. Farah dan Falen hanya menurut saja apa maunya Tata.
Saat mbak-mbak penjual tiket bertanya, “mau pesan tiket untuk berapa orang?”. Tata dengan sigap mengatakan ‘dua Mbak’. Secara otomatis Farah kaget.
“Lho, kok cuma pesen dua? Bukannya kita mau nonton bertiga?”
Sorry banget, Rah, aku baru sadar, jadwal filmnya sampai malam. Ortuku pasti marah kalau aku pulang malam, kamu tahu sendiri kan rumahku jauh banget dari sini. Kalo kamu sih enak, masih ada rumah di Bandung, jadinya nggak perlu balik ke Nangor,” jelas Tata. “Kak Falen, aku titip Farah ya,” lanjutnya.
What!? Dengan seenaknya si Tata main nitipin aku ke kak Falen. Memangnya aku anak hilang? Main kabur aja lagi nih anak. Gila, niat banget sih dia ngejodohin aku sama kak Falen. Sumpah, tega banget. Udah tahu aku naksirnya sama si Ren tapi dia tetep maksa jodohin aku sama cowok lain.
Farah hanya bisa kesal dalam hati. Bingung nanti harus bersikap gimana sama Falen. Parahnya setelah memesan tiket nonton bioskop Tata langsung pergi meninggalkannya bersama Falen begitu saja. Dia bilang bahwa temannya yang lain sedang menunggunya di toko buku Gramedia, seberang BIP. Mereka janjian mau membeli buku referensi untuk bahan skripsi bersama. Farah tahu kalau itu hanyalah akal-akalan Tata saja.
Finally, Farah dan Falen bengong. Mereka hanya saling pandang seolah-olah memaklumi sikap Tata yang memang sengaja banget ingin menjodohkan mereka berdua. Lalu Falen mulai mencairkan suasana, dia mengajak duduk sambil minum kopi di foodcourt.
Falen memesan kopi caramel dan Farah hanya memesan air minum biasa. Mereka memulai percakapan ringan. Seputar sekolah, kuliah, hobi, dan cita-cita. Saat diajak ngobrol ternyata kak Falen seru juga, pikir Farah.
Falen cukup banyak bercerita tentang dirinya. Sewaktu SD dia pernah sekolah di Inggris dan saat itu pernah ada seorang anak perempuan yang naksir dirinya. Saking naksirnya anak itu sampai berani mencium pipinya di hadapan anak-anak lainnya dan para guru. Waktu itu Falen masih terlalu kecil untuk bisa memahami apa maksud peristiwa saat itu.
Falen juga bercerita bahwa dia sangat menyukai hobinya yang sekarang sedang ia tekuni, yaitu bermain biola. Setelah ia merasa cukup bercerita tentang dirinya, sesekali ia bertanya tentang kesibukan farah, tentang hobi Farah, dan lain-lain.
Farah melihat jam tangannya, ternyata waktu tidak terasa telah banyak berlalu. Filmnya sebentar lagi akan dimulai. Farah pun memberi tahu Falen lalu mereka segera pergi ke tempat gedung bioskop.
Saat mereka memasuki ruangan bioskop ternyata lampunya sudah diredupkan, pertanda film akan dimulai. Akan tetapi penonton di luar masih datang berbondong-bondong memasuki area pintu masuk. Karena gelap dan ramai Farah pun sampai terdorong menjauh dari Falen, ia terbawa arus penonton yang berdatangan.
Falen akhirnya menyadari bahwa Farah tidak ada di belakangnya. Ia pun mencari Farah. Saat Falen melihat Farah yang sedang kesusahan menghampiri dirinya, tanpa pikir panjang lagi Falen langsung meraih tangan Farah. Dia pun menarik Farah agar mendekat dengannya.
 Entah apa yang merasuki diri Farah saat ini. Sepertinya Farah merasa bahwa mukanya memerah. Ada rasa hangat dari genggaman tangan Falen yang menjalar hingga ke ujung kepalanya. Hal itu membuat jantungnya jadi berdegup kencang tidak beraturan. Untung saja bioskop sudah gelap, kalau tidak mungkin saja Falen akan tahu bahwa Farah sedang kegeeran dan salah tingkah saat ini. Ketika akhirnya mereka duduk di kursi bioskop Falen pun melepaskan genggamannya. Farah merasa lega karena jantungnya dapat berdegup normal kembali.
Biasanya Farah tidak akan pernah mau pergi menonton berdua dengan laki-laki selain pacarnya sendiri. Tapi masalahnya kali ini ia dijebak! Dan ia tak bisa menghindarinya. Untung saja Falen bukanlah laki-laki freak yang suka lebay seperti lelaki lainnya yang selama ini mengejar-ngejar Farah.  Farah sudah trauma dengan laki-laki freak.
Sebelumnya Farah memiliki banyak teman laki-laki. Ia suka bergaul dengan siapa saja, tidak melihat apakah orang itu kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, bahkan bencong pun tak masalah untuknya. Akan tetapi sejak Farah mulai beranjak remaja dan mengenal ‘cinta’, pertemanan dengan lawan jenis pun jadi tidak semudah dulu lagi. Tidak sedikit laki-laki yang menyatakan cinta padanya walaupun sering kali lelaki itu tidak mengenal Farah dengan baik dan tidak sedikit pula mereka mengejar-ngejar Farah dengan cara yang aneh.
Setiap lelaki yang merasa ‘dekat’ dengan Farah selalu merasa kepedean bahwa cinta mereka akan diterima oleh Farah. Rata-rata teman-teman lelaki yang cintanya ditolak akan pergi menghilang begitu saja. Alasannya sih supaya nggak sakit hati. Tapi ada juga lelaki yang begitu cintanya ditolak dia malah tetap mengejar Farah. Bahkan sampai ada yang meneror segala.
Laki-laki yang mengejar Farah itu beraneka ragam rupanya. Dari yang muda hingga kakek-kakek. Dari yang masih ababil sampai yang udah kelewat matang. Dari yang level teri sampai level kakap.
Pernah pada suatu hari ada laki-laki yang menguntit Farah setiap pulang kuliah. Awalnya Farah tidak sadar kalau ada yang mengikutinya dari belakang. Tapi lama-kelamaan ia menyadarinya juga karena salah seorang temannya merasakan sesuatu yang ganjil saat pulang bersamanya seusai kuliah. Setelah Farah sadar ia pun langsung menegur orang yang menguntitnya itu.
Namun diluar dugaan, lelaki yang menguntitnya malah mengajaknya berkenalan secara langsung. Dia bilang dia naksir Farah sejak pandangan pertama. Alasannya karena wajahnya mirip penyanyi Jepang favoritnya. Gila, freak banget dia, pikir Farah saat itu.
Ada juga kejadian lainnya, yaitu ketika suatu hari yang lumayan mendung Farah hendak pergi ke kampus ITB mengunjungi seorang kenalannya. Saat Farah pergi dengan bis DAMRI dari Jatinangor ia melihat ada bapak-bapak tua yang berumur kisaran 50 tahunan sedang kebingungan mencari tempat duduk. Mungkin karena bapak itu melihat Farah yang sedang duduk sendirian di kursi bis maka dia pun langsung mendekat dan duduk di kursi sebelah Farah yang masih kosong. Saat itu Farah yang lugu hanya tersenyum ramah padanya.
Tak lama kemudian bapak tua itu mengajak Farah mengobrol. Berhubung Farah menghargai orang tua maka obrolannya pun ia tanggapi. Bapak tua itu bertanya kepada Farah mau pergi ke mana, Farah menjawab mau ke ITB, bapak itu berkata bahwa dirinya juga searah dengannya. “Yasudah, kita pergi bersama saja,” ucap si bapak tua. Berhubung Farah berpikir kasihan juga bapak ini, akhirnya Farah mengiyakan ajakan bapak tersebut.
Saat turun dari bis mereka pun menaiki angkot yang sama. Turun dari angkot tiba-tiba saja hujan turun. Untungnya Farah selalu membawa payung. Farah pun menawari bapak itu untuk sepayung berdua. Kasihan kan sudah tua.
Ketika mereka menunggu angkot yang jurusannya melewati kampus ITB tiba-tiba saja bapak tersebut menanyakan pertanyaan yang ganjil kepada Farah, “oya, kamu suka nonton bioskop nggak?”
“Jarang sih, Pak. Memangnya kenapa?” jawab Farah sekenanya.
“Kapan-kapan bapak ajakin nonton bioskop ya,” ajaknya sambil senyum-senyum centil.
Farah terkejut mendengarnya. Farah mengecek telinganya, apa nggak salah denger ya? Tapi ia ingat kalau kemarin dirinya sudah periksa ke dokter spesialis THT di rumah sakit dan hasilnya pun normal. Itu artinya bukan telinga Farah yang salah tapi otak bapak ini yang rusak.
Farah pun hanya terdiam dan tidak menanggapi ucapan bapak itu. Seandainya tujuan mereka tidak searah, mungkin Farah sudah kabur sekarang juga. Sialnya, Farah malah menawari bapak tersebut untuk sepayung berdua dengannya.
Aargh, sial! Mana angkotnya lama lagi, nggak lewat-lewat, batin Farah kesal. Mendadak Farah merasakan ada yang menggenggam tangannya. Ternyata si bapak itu memegang tangannya!?
“Sini, biar saya saja yang pegang payungnya,” ucap si bapak tua.
“Nggak usah Pak, saya bisa sendiri kok,” jawab Farah sambil tersenyum getir, mencoba menutupi rasa ketidaknyamanannya. “Ah, TAKSI!!” teriak Farah spontan saat melihat sebuah taksi melaju melewatinya. “Pak, maaf ya, kayaknya saya mau pakai taksi saja, soalnya saya buru-buru. Saya ada urusan penting. Bapak kalau mau pake payung saya, silahkan saja Pak, dipake aja. Saya bisa beli yang baru lagi kok,” ucap Farah sambil buru-buru berpamitan dan menyerahkan payungnya kepada si bapak tua.
“Ah, nggak usah Dek, saya ikut adek aja pakai taksi,” si pak tua ini masih tetap memaksa.
Sial, sial, siaaaall. Bapak tua itu ikut naik taksi bersama Farah. Ia memaksa masuk dan duduk di sebelah Farah di kursi belakang. Tahu begitu aku mending duduk di kursi depan, dekat sopir!, batin Farah gondok.
Sepanjang perjalanan sang bapak tua meminta nomor ponsel dan alamatnya Farah. Farah pun memberikan nomor ponsel dan alamat palsu kepadanya. Nih kakek-kakek ganjen amat!! Saking nggak kuatnya si Farah meladeni bapak tua ini, akhirnya ia menanyakan keluarga dan anaknya sang bapak. Siapa tahu nantinya sang bapak tua ini akan ingat dengan keluarganya di rumah dan tidak akan ganjen kepada dirinya.
Namun Farah semakin terkejut ketika ia mendengar jawaban dari si bapak tua. Bapak itu bilang kalau dirinya belum menikah dan sedang kuliah S1 di UNPAD. Whaatt?? Udah kakek-kakek seperti ini tapi masih S1? Ohmaigooottt.
Setelah turun dari taksi Farah langsung membayarkan ongkosnya secara tergesa-gesa tapi si bapak tua menepisnya. “Biar saya saja yang bayar,” ucap si pak tua. 

#bersambung#


Tidak ada komentar:

Posting Komentar