“Sebenernya
udah dari kemarin aku sama kak Falen memang ada rencana mau nonton bareng.
Supaya dapet kursi, mending kita mesen tiketnya dulu ya,” jawab Tata. Farah dan Falen hanya menurut saja
apa maunya Tata.
Saat mbak-mbak
penjual tiket bertanya, “mau pesan tiket untuk berapa orang?”. Tata dengan
sigap mengatakan ‘dua Mbak’. Secara otomatis Farah kaget.
“Lho, kok cuma
pesen dua? Bukannya kita mau nonton bertiga?”
“Sorry banget, Rah, aku baru sadar,
jadwal filmnya sampai malam. Ortuku pasti marah kalau aku pulang malam, kamu
tahu sendiri kan rumahku jauh banget dari sini. Kalo kamu sih enak, masih ada
rumah di Bandung, jadinya nggak perlu balik ke Nangor,” jelas Tata. “Kak Falen,
aku titip Farah ya,” lanjutnya.
What!? Dengan seenaknya si Tata main nitipin aku
ke kak Falen. Memangnya aku anak hilang? Main kabur aja lagi nih anak. Gila,
niat banget sih dia ngejodohin aku sama kak Falen. Sumpah, tega banget. Udah
tahu aku naksirnya sama si Ren tapi dia tetep maksa jodohin aku sama cowok lain.
Farah hanya
bisa kesal dalam hati. Bingung nanti harus bersikap gimana sama Falen. Parahnya
setelah memesan tiket nonton bioskop Tata langsung pergi meninggalkannya
bersama Falen begitu saja. Dia bilang bahwa temannya yang lain sedang
menunggunya di toko buku Gramedia, seberang BIP. Mereka janjian mau membeli
buku referensi untuk bahan skripsi bersama. Farah tahu kalau itu hanyalah
akal-akalan Tata saja.
Finally, Farah dan Falen bengong. Mereka hanya saling pandang
seolah-olah memaklumi sikap Tata yang memang sengaja banget ingin menjodohkan
mereka berdua. Lalu Falen mulai mencairkan suasana, dia mengajak duduk sambil
minum kopi di foodcourt.
Falen memesan
kopi caramel dan Farah hanya memesan air minum biasa. Mereka memulai percakapan
ringan. Seputar sekolah, kuliah, hobi, dan cita-cita. Saat diajak ngobrol ternyata kak Falen seru juga, pikir Farah.
Falen cukup banyak
bercerita tentang dirinya. Sewaktu SD dia pernah sekolah di Inggris dan saat
itu pernah ada seorang anak perempuan yang naksir dirinya. Saking naksirnya
anak itu sampai berani mencium pipinya di hadapan anak-anak lainnya dan para
guru. Waktu itu Falen masih terlalu kecil untuk bisa memahami apa maksud
peristiwa saat itu.
Falen juga
bercerita bahwa dia sangat menyukai hobinya yang sekarang sedang ia tekuni,
yaitu bermain biola. Setelah ia merasa cukup bercerita tentang dirinya,
sesekali ia bertanya tentang kesibukan farah, tentang hobi Farah, dan
lain-lain.
Farah melihat
jam tangannya, ternyata waktu tidak terasa telah banyak berlalu. Filmnya
sebentar lagi akan dimulai. Farah pun memberi tahu Falen lalu mereka segera
pergi ke tempat gedung bioskop.
Saat mereka
memasuki ruangan bioskop ternyata lampunya sudah diredupkan, pertanda film akan
dimulai. Akan tetapi penonton di luar masih datang berbondong-bondong memasuki
area pintu masuk. Karena gelap dan ramai Farah pun sampai terdorong menjauh
dari Falen, ia terbawa arus penonton yang berdatangan.
Falen akhirnya
menyadari bahwa Farah tidak ada di belakangnya. Ia pun mencari Farah. Saat
Falen melihat Farah yang sedang kesusahan menghampiri dirinya, tanpa pikir panjang
lagi Falen langsung meraih tangan Farah. Dia pun menarik Farah agar mendekat
dengannya.
Entah apa yang
merasuki diri Farah saat ini. Sepertinya Farah merasa bahwa mukanya memerah. Ada
rasa hangat dari genggaman tangan Falen yang menjalar hingga ke ujung kepalanya.
Hal itu membuat jantungnya jadi berdegup kencang tidak beraturan. Untung saja bioskop
sudah gelap, kalau tidak mungkin saja Falen akan tahu bahwa Farah sedang
kegeeran dan salah tingkah saat ini. Ketika akhirnya mereka duduk di kursi
bioskop Falen pun melepaskan genggamannya. Farah merasa lega karena jantungnya
dapat berdegup normal kembali.
Biasanya Farah
tidak akan pernah mau pergi menonton berdua dengan laki-laki selain pacarnya
sendiri. Tapi masalahnya kali ini ia dijebak! Dan ia tak bisa menghindarinya. Untung
saja Falen bukanlah laki-laki freak
yang suka lebay seperti lelaki
lainnya yang selama ini mengejar-ngejar Farah.
Farah sudah trauma dengan laki-laki freak.
Sebelumnya
Farah memiliki banyak teman laki-laki. Ia suka bergaul dengan siapa saja, tidak
melihat apakah orang itu kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, bahkan bencong
pun tak masalah untuknya. Akan tetapi sejak Farah mulai beranjak remaja dan
mengenal ‘cinta’, pertemanan dengan lawan jenis pun jadi tidak semudah dulu
lagi. Tidak sedikit laki-laki yang menyatakan cinta padanya walaupun sering
kali lelaki itu tidak mengenal Farah dengan baik dan tidak sedikit pula mereka
mengejar-ngejar Farah dengan cara yang aneh.
Setiap lelaki
yang merasa ‘dekat’ dengan Farah selalu merasa kepedean bahwa cinta mereka akan
diterima oleh Farah. Rata-rata teman-teman lelaki yang cintanya ditolak akan
pergi menghilang begitu saja. Alasannya sih supaya nggak sakit hati. Tapi ada
juga lelaki yang begitu cintanya ditolak dia malah tetap mengejar Farah. Bahkan
sampai ada yang meneror segala.
Laki-laki yang
mengejar Farah itu beraneka ragam rupanya. Dari yang muda hingga kakek-kakek. Dari
yang masih ababil sampai yang udah kelewat matang. Dari yang level teri sampai
level kakap.
Pernah pada
suatu hari ada laki-laki yang menguntit Farah setiap pulang kuliah. Awalnya
Farah tidak sadar kalau ada yang mengikutinya dari belakang. Tapi lama-kelamaan
ia menyadarinya juga karena salah seorang temannya merasakan sesuatu yang
ganjil saat pulang bersamanya seusai kuliah. Setelah Farah sadar ia pun langsung
menegur orang yang menguntitnya itu.
Namun diluar
dugaan, lelaki yang menguntitnya malah mengajaknya berkenalan secara langsung.
Dia bilang dia naksir Farah sejak pandangan pertama. Alasannya karena wajahnya
mirip penyanyi Jepang favoritnya. Gila,
freak banget dia, pikir Farah saat itu.
Ada juga
kejadian lainnya, yaitu ketika suatu hari yang lumayan mendung Farah hendak
pergi ke kampus ITB mengunjungi seorang kenalannya. Saat Farah pergi dengan bis
DAMRI dari Jatinangor ia melihat ada bapak-bapak tua yang berumur kisaran 50
tahunan sedang kebingungan mencari tempat duduk. Mungkin karena bapak itu
melihat Farah yang sedang duduk sendirian di kursi bis maka dia pun langsung mendekat
dan duduk di kursi sebelah Farah yang masih kosong. Saat itu Farah yang lugu hanya
tersenyum ramah padanya.
Tak lama
kemudian bapak tua itu mengajak Farah mengobrol. Berhubung Farah menghargai
orang tua maka obrolannya pun ia tanggapi. Bapak tua itu bertanya kepada Farah
mau pergi ke mana, Farah menjawab mau ke ITB, bapak itu berkata bahwa dirinya
juga searah dengannya. “Yasudah, kita pergi bersama saja,” ucap si bapak tua. Berhubung
Farah berpikir kasihan juga bapak ini,
akhirnya Farah mengiyakan ajakan bapak tersebut.
Saat turun dari
bis mereka pun menaiki angkot yang sama. Turun dari angkot tiba-tiba saja hujan
turun. Untungnya Farah selalu membawa payung. Farah pun menawari bapak itu
untuk sepayung berdua. Kasihan kan sudah
tua.
Ketika mereka
menunggu angkot yang jurusannya melewati kampus ITB tiba-tiba saja bapak
tersebut menanyakan pertanyaan yang ganjil kepada Farah, “oya, kamu suka nonton
bioskop nggak?”
“Jarang sih,
Pak. Memangnya kenapa?” jawab Farah sekenanya.
“Kapan-kapan bapak
ajakin nonton bioskop ya,” ajaknya sambil senyum-senyum centil.
Farah terkejut
mendengarnya. Farah mengecek telinganya, apa
nggak salah denger ya? Tapi ia ingat kalau kemarin dirinya sudah periksa ke
dokter spesialis THT di rumah sakit dan hasilnya pun normal. Itu artinya bukan
telinga Farah yang salah tapi otak bapak ini yang rusak.
Farah pun
hanya terdiam dan tidak menanggapi ucapan bapak itu. Seandainya tujuan mereka
tidak searah, mungkin Farah sudah kabur sekarang juga. Sialnya, Farah malah
menawari bapak tersebut untuk sepayung berdua dengannya.
Aargh, sial! Mana angkotnya lama lagi, nggak lewat-lewat, batin
Farah kesal. Mendadak Farah merasakan ada yang menggenggam tangannya. Ternyata
si bapak itu memegang tangannya!?
“Sini, biar
saya saja yang pegang payungnya,” ucap si bapak tua.
“Nggak usah
Pak, saya bisa sendiri kok,” jawab Farah sambil tersenyum getir, mencoba
menutupi rasa ketidaknyamanannya. “Ah, TAKSI!!” teriak Farah spontan saat
melihat sebuah taksi melaju melewatinya. “Pak, maaf ya, kayaknya saya mau pakai
taksi saja, soalnya saya buru-buru. Saya ada urusan penting. Bapak kalau mau
pake payung saya, silahkan saja Pak, dipake aja. Saya bisa beli yang baru lagi
kok,” ucap Farah sambil buru-buru berpamitan dan menyerahkan payungnya kepada
si bapak tua.
“Ah, nggak
usah Dek, saya ikut adek aja pakai taksi,” si pak tua ini masih tetap memaksa.
Sial, sial, siaaaall. Bapak tua itu ikut naik taksi bersama Farah. Ia
memaksa masuk dan duduk di sebelah Farah di kursi belakang. Tahu begitu aku mending duduk di kursi
depan, dekat sopir!, batin Farah gondok.
Sepanjang
perjalanan sang bapak tua meminta nomor ponsel dan alamatnya Farah. Farah pun
memberikan nomor ponsel dan alamat palsu kepadanya. Nih kakek-kakek ganjen amat!! Saking nggak kuatnya si Farah meladeni
bapak tua ini, akhirnya ia menanyakan keluarga dan anaknya sang bapak. Siapa
tahu nantinya sang bapak tua ini akan ingat dengan keluarganya di rumah dan
tidak akan ganjen kepada dirinya.
Namun Farah
semakin terkejut ketika ia mendengar jawaban dari si bapak tua. Bapak itu
bilang kalau dirinya belum menikah dan sedang kuliah S1 di UNPAD. Whaatt?? Udah kakek-kakek seperti ini tapi
masih S1? Ohmaigooottt.
Setelah turun
dari taksi Farah langsung membayarkan ongkosnya secara tergesa-gesa tapi si
bapak tua menepisnya. “Biar saya saja yang bayar,” ucap si pak tua.
#bersambung#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar