Farah sudah
tidak perduli lagi. Pokoknya saat itu juga dirinya ingin segera pergi dari
kakek-kakek tua-ganjen ini! Katika si pak tua sedang membayar ongkos taxi Farah
langsung memanfaatkan momen itu untuk kabur. Dengan seribu alasan si bapak tua
itu memanggil Farah karena ingin terus mengekor dekat dengannya. Tapi
sepertinya walaupun pak tua itu memanggil Farah berkali-kali, hati Farah tidak
bergeming, Farah berpura-pura tidak medengarnya dan terus saja berjalan cepat
tanpa menoleh.
Ah,
ternyata aku melamun, batin Farah
begitu tersadar dari lamunannya.
Saat ini Farah masih berada di tengah-tengah acara
menonton bioskop bersama Falen. Sebenarnya film yang sedang mereka tonton
sekarang lumayan bagus. Berceritakan mengenai jaman yunani kuno. Hanya saja
wangi parfum dari tubuhnya Falen membuat Farah jadi susah untuk berkonsentrasi
dan malah membuatnya melamun. Lama-lama
aku bisa ketiduran di sini.
Entah sejak
kapan film itu berakhir, Farah langsung membuka matanya dan segera berdiri dari
tempat duduknya. Sial, aku ketiduran!
Farah mengelap air liurnya yang masih menempel di ujung bibir dengan punggung
tangannya. Buru-buru ia keluarkan tisu dari dalam tasnya dan melap tangannya
serta bibirnya dengan tisu tersebut. Ah~
hancur sudah reputasiku di depan cowok ini. Dia pasti akan memandangku rendah. Tapi
sudahlah, toh, sampai saat ini aku masih tetap suka sama Ren.
Falen hanya tersenyum
geli melihat gelagat Farah yang panik. Dia tidak berkomentar apa-apa. Justru
itulah yang Farah takutkan. Semakin tidak berkomentar seseorang, semakin ia
tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh orang tersebut. Apa jangan-jangan dia sudah mengejekku
diam-diam?
“Ohya, kamu habis
ini ada acara lagi nggak?” tanya kak Falen pada Farah.
“Nggak ada,
kenapa kak?”
“Mending kita
makan malam aja dulu, di seberang BIP ada Hoka-hoka Bento. Kita makan di sana
aja. Tapi sebelumnya kita mampir dulu ke Gramedia ya.”
Farah hanya
menganggukkan kepala. Tanda menyetujui ajakan Falen.
Ternyata di
luar sedang hujan. Untungnya seperti biasa, Farah selalu membawa payung ke
mana-mana. Farah dan Falen pun memakai
satu payung berdua.
Sepertinya payungku ini sangat kecil untuk
dipakai berdua, pikir Farah begitu memakai
payungnya bersama Falen. Pundak kiri Farah tidak cukup tertutupi oleh payung,
alhasil bajunya jadi basah. Farah mencoba mendekatkan diri ke Falen tetapi
tetap sama saja, ia masih kehujanan.
“Kak Falen,
payungnya kurang ke kiri nih, pundakku masih kehujanan, huhu, kamu kan enak pake
jaket, jadinya nggak kebasahan,” Farah merengek.
“Oh, sori,
sori,” jawab Falen kalem.
Hujan semakin deras, Farah langsung memegang
tangan Falen sekilas dan menariknya pelan. Farah memberikan isyarat kepada
Falen agar dirinya segera mempercepat langkah kakinya. Ketika harus menyebrangi
jalan raya giliran tangan Falen yang memegang tangan Farah duluan. Falen bermaksud
untuk melindungi Farah saat mereka sedang menyeberang jalanan raya yang
kendaraannya sering melaju cepat dan kurang toleran terhadap pejalan kaki.
Entah mengapa pada
moment seperti ini waktu seakan berjalan melambat di mata Farah. Tetesan hujan
yang jatuh bagaikan peluru yang bergerak melambat seperti salah satu adegan di film
The Matrix.
Farah juga
teringat dengan salah satu adegan lainnya di sebuah film Drama Korea. Seorang
tokoh wanita yang sedang berjalan berdua di bawah hujan bersama dengan tokoh pria
pasangannya yang tampan rupawan. Di dalam adegan itu tokoh wanitanya memakai
payung bersama dengan sang tokoh pria. Adegan itu adalah adegan yang romantic
di mana si tokoh pria melindungi si tokoh wanita dari hujan. Ditambah dengan
efek latar belakang dan backsound
lagu yang lembut beraliran jazz.
Saat ini Farah
merasa bahwa dirinya adalah tokoh wanita yang ada di film drama Korea tersebut,
sedangkan Falen adalah tokoh prianya. Detik itu juga Farah melihat dengan
seksama sosok Falen yang berada di
sebelahnya. Falen terlihat sangat tampan di mata Farah. Terlihat jelas sekali.
Kenapa jantungku jadi berdebar begini ya?
Memasuki
gedung Gramedia dengan sebagian baju yang basah membuat Farah kedinginan. Falen
sepertinya sengaja berjalan agak menjauh dari Farah agar dirinya terhindar dari
omelan Farah, berkat Falen kini Farah menjadi pusat perhatian karena bajunya
basah kuyup.
Gara-gara kak Falen nggak megang payung dengan
benar aku jadi basah beginiii, huuuft. Benar-benar
tidak bertanggung jawab. Seandainya dia emang cowok sejati seenggaknya dia
bakalan meminjamkan jaketnya buatku.
*KRUUK*, perut Farah berbunyi cukup keras. Membuat beberapa orang
yang berada di dekatnya menoleh kepadanya. Farah lupa bahwa sejak siang ia
belum makan apa-apa. Farah yang wajahnya memerah karena diperhatikan orang
langsung buru-buru pergi menyusul Falen yang sedang berdiri di salah satu
deretan rak buku dekat tangga.
Farah memasang
wajah merengek dan memelas di hadapan Falen. Menunjukkan bahwa mood-nya
sedang kesal. Ia ingin agar Falen meminta maaf padanya karena telah membuat
bajunya basah. Kalau ia sampai masuk angin maka ia akan menyalahkan Falen. Apalagi
perut Farah masih kosong maka kemungkinan ia terkena masuk angin jadi lebih
besar.
“Kak Faleen~”
rengek Farah dengan tampang kusut dan memelas.
Falen menoleh
ke kanan dan ke kiri, lalu melihat ke arah sumber suara.
Belum sempat
Farah ingin mengomeli Falen, Falen sudah bicara duluan, “Rah, kamu tahu gak?”
tanyanya langsung.
“Apa?” ucap
Farah polos sambil memegang perutnya yang lapar.
“Kalo kamu
pasang tampang begitu, kamu tuh bakalan mirip kayak ibu hamil tau. Lihat deh,
sekarang kita sedang berdiri di mana,” bisik Falen ke Farah sambil melirik ke arah
papan nama rak buku.
Farah pun
menoleh ke tulisan yang berada di papan rak buku. Di sana tertulis, ‘Ibu Hamil
dan Menyusui’. Farah terkejut dan
refleks melepaskan pegangan tangannya yang ada di perutnya sambil menoleh ke
sekitarnya agar tidak ada orang yang menyadari kelakuannya barusan.
“Omaigat!
pasti orang-orang bakalan mikir kalo kita ini pasangan muda yang hamil di luar
nikah, dan aku sedang minta pertanggung jawaban dari kamu,” gumam Farah.
“Yup,” ucap
Falen sambil nyengir kuda dan menepuk-nepuk kepala Farah.
“Oya,
urusannya sudah selesai belum? Aku lapar nih,” ucap Farah kemudian dengan
tampangnya yang masih memelas.
“Buku yang
kucari udah ketemu kok. Aku bayar dulu, udah gitu kita langsung ke Hokben.
Bentar yah.”
*KRUUK* Perut
Farah berbunyi lagi. Kali ini lebih kencang dan lebih lama. Wajah Farah memerah
seketika itu juga. Ia buru-buru menutupi wajahnya dengan buku yang ia pegang.
“Hahaha, kamu
ini lucu yah”, Falen pun tertawa dan kembali menepuk-nepuk kepala Farah.
Saat Falen
menepuk kepala Farah, Farah merasa diperlakukan seperti anak kecil. Mereka
terlihat akrab satu sama lain, walaupun sebenarnya hari ini adalah kali pertama
mereka bertemu dan berkenalan. Saat mereka sedang bercanda gurau, ada seorang
wanita dengan kulit putih blasteran asia yang melintas di depan mereka.
Wanita asia itu
menoleh ke arah Falen sejenak. Kemudian dia terpaku sesaat seolah-olah sedang
berpikir atau berusaha mengingat sesuatu. Dengan wajah setengah kaget dan
setengah senang wanita asia itu langsung bertanya, “Ah! Fallen-kun?”. Dari bahasanya Farah tahu kalau
wanita ini pasti orang Jepang.
Falen yang
merasa tak asing lagi dengan suara yang memanggilnya langsung menoleh. Mata
Falen terbelalak senang sekaligus terkejut. “Yuko-chan?” ucap Falen dengan nada
tidak percaya.
“Ah! Benar kan
Falen! Hisashiburi ne,” ucap wanita Jepang itu yang ternyata
bernama Yuko. Sepertinya wanita ini blasteran Jepang-Indonesia atau mungkin
pernah tinggal lama di Indonesia, karena bahasa Indonesia Yuko terdengar lancar
di telinga Farah.
“Kamu ada di Indonesia? Sejak kapan?” tanya Falen
penasaran.
“Aku lagi
berkunjung ke keluarga Okāsan, rasanya sudah lama banget aku nggak main ke
Indonesia, apalagi ke Bandung. Kangen banget rasanya,” jelas wanita itu pada
Falen.
“Ah, iya. Sudah lama sekali. Kukira kamu nggak akan
balik lagi ke Indonesia”.
Farah memperhatikan Yuko dan Falen. Tiba-tiba ada
semacam aura khusus di antara mereka berdua. Lalu Farah pun berpikir, apakah sebaiknya aku pergi diam-diam saja? Aku
takut mengganggu acara reunian mereka.
“Ah, aku lupa. Maaf ya sudah menganggu kalian,” ucap
Yuko sambil melirik ke arah Farah. Baru saja Farah mau kabur ternyata sudah
kepergok duluan oleh wanita Jepang itu.
“Eh, enggak apa-apa kok. Santai aja,” ucap Farah
kemudian.
“Oh iya, dia ini kenalanku, namanya Farah. Farah
kenalin, dia ini Yuko,” Falen memperkenalkn Farah dan Yuko. “Yuko, kamu sibuk gak?
Mau makan malam bareng? Kebetulan sekarang aku dan Farah mau ke Hokben nih,”
ajak Falen pada Yuko.
#bersambung#



