Rabu, 10 April 2013

Fallen in Love (4)


Farah sudah tidak perduli lagi. Pokoknya saat itu juga dirinya ingin segera pergi dari kakek-kakek tua-ganjen ini! Katika si pak tua sedang membayar ongkos taxi Farah langsung memanfaatkan momen itu untuk kabur. Dengan seribu alasan si bapak tua itu memanggil Farah karena ingin terus mengekor dekat dengannya. Tapi sepertinya walaupun pak tua itu memanggil Farah berkali-kali, hati Farah tidak bergeming, Farah berpura-pura tidak medengarnya dan terus saja berjalan cepat tanpa menoleh.

 Ah, ternyata aku melamun, batin Farah begitu tersadar dari lamunannya.
Saat ini Farah masih berada di tengah-tengah acara menonton bioskop bersama Falen. Sebenarnya film yang sedang mereka tonton sekarang lumayan bagus. Berceritakan mengenai jaman yunani kuno. Hanya saja wangi parfum dari tubuhnya Falen membuat Farah jadi susah untuk berkonsentrasi dan malah membuatnya melamun. Lama-lama aku bisa ketiduran di sini.

Entah sejak kapan film itu berakhir, Farah langsung membuka matanya dan segera berdiri dari tempat duduknya. Sial, aku ketiduran! Farah mengelap air liurnya yang masih menempel di ujung bibir dengan punggung tangannya. Buru-buru ia keluarkan tisu dari dalam tasnya dan melap tangannya serta bibirnya dengan tisu tersebut. Ah~ hancur sudah reputasiku di depan cowok ini. Dia pasti akan memandangku rendah. Tapi sudahlah, toh, sampai saat ini aku masih tetap suka sama Ren.
Falen hanya tersenyum geli melihat gelagat Farah yang panik. Dia tidak berkomentar apa-apa. Justru itulah yang Farah takutkan. Semakin tidak berkomentar seseorang, semakin ia tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh orang tersebut. Apa jangan-jangan dia sudah mengejekku diam-diam?
“Ohya, kamu habis ini ada acara lagi nggak?” tanya kak Falen pada Farah.
“Nggak ada, kenapa kak?”
“Mending kita makan malam aja dulu, di seberang BIP ada Hoka-hoka Bento. Kita makan di sana aja. Tapi sebelumnya kita mampir dulu ke Gramedia ya.”
Farah hanya menganggukkan kepala. Tanda menyetujui ajakan Falen.
Ternyata di luar sedang hujan. Untungnya seperti biasa, Farah selalu membawa payung ke mana-mana.  Farah dan Falen pun memakai satu payung berdua.
Sepertinya payungku ini sangat kecil untuk dipakai berdua, pikir Farah begitu memakai payungnya bersama Falen. Pundak kiri Farah tidak cukup tertutupi oleh payung, alhasil bajunya jadi basah. Farah mencoba mendekatkan diri ke Falen tetapi tetap sama saja, ia masih kehujanan.
“Kak Falen, payungnya kurang ke kiri nih, pundakku masih kehujanan, huhu, kamu kan enak pake jaket, jadinya nggak kebasahan,” Farah merengek.
“Oh, sori, sori,” jawab Falen kalem.
 Hujan semakin deras, Farah langsung memegang tangan Falen sekilas dan menariknya pelan. Farah memberikan isyarat kepada Falen agar dirinya segera mempercepat langkah kakinya. Ketika harus menyebrangi jalan raya giliran tangan Falen yang memegang tangan Farah duluan. Falen bermaksud untuk melindungi Farah saat mereka sedang menyeberang jalanan raya yang kendaraannya sering melaju cepat dan kurang toleran terhadap pejalan kaki.
Entah mengapa pada moment seperti ini waktu seakan berjalan melambat di mata Farah. Tetesan hujan yang jatuh bagaikan peluru yang bergerak melambat seperti salah satu adegan di film The Matrix.
Farah juga teringat dengan salah satu adegan lainnya di sebuah film Drama Korea. Seorang tokoh wanita yang sedang berjalan berdua di bawah hujan bersama dengan tokoh pria pasangannya yang tampan rupawan. Di dalam adegan itu tokoh wanitanya memakai payung bersama dengan sang tokoh pria. Adegan itu adalah adegan yang romantic di mana si tokoh pria melindungi si tokoh wanita dari hujan. Ditambah dengan efek latar belakang dan backsound lagu yang lembut beraliran jazz. 
Saat ini Farah merasa bahwa dirinya adalah tokoh wanita yang ada di film drama Korea tersebut, sedangkan Falen adalah tokoh prianya. Detik itu juga Farah melihat dengan seksama sosok  Falen yang berada di sebelahnya. Falen terlihat sangat tampan di mata Farah. Terlihat jelas sekali.
Kenapa jantungku jadi berdebar begini ya?

Memasuki gedung Gramedia dengan sebagian baju yang basah membuat Farah kedinginan. Falen sepertinya sengaja berjalan agak menjauh dari Farah agar dirinya terhindar dari omelan Farah, berkat Falen kini Farah menjadi pusat perhatian karena bajunya basah kuyup.
Gara-gara kak Falen nggak megang payung dengan benar aku jadi basah beginiii, huuuft. Benar-benar tidak bertanggung jawab. Seandainya dia emang cowok sejati seenggaknya dia bakalan meminjamkan jaketnya buatku.  
*KRUUK*, perut Farah berbunyi cukup keras. Membuat beberapa orang yang berada di dekatnya menoleh kepadanya. Farah lupa bahwa sejak siang ia belum makan apa-apa. Farah yang wajahnya memerah karena diperhatikan orang langsung buru-buru pergi menyusul Falen yang sedang berdiri di salah satu deretan rak buku dekat tangga.
Farah memasang wajah merengek dan memelas di hadapan Falen. Menunjukkan bahwa  mood-nya sedang kesal. Ia ingin agar Falen meminta maaf padanya karena telah membuat bajunya basah. Kalau ia sampai masuk angin maka ia akan menyalahkan Falen. Apalagi perut Farah masih kosong maka kemungkinan ia terkena masuk angin jadi lebih besar.
“Kak Faleen~” rengek Farah dengan tampang kusut dan memelas.
Falen menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu melihat ke arah sumber  suara.
Belum sempat Farah ingin mengomeli Falen, Falen sudah bicara duluan, “Rah, kamu tahu gak?” tanyanya langsung.
“Apa?” ucap Farah polos sambil memegang perutnya yang lapar.
“Kalo kamu pasang tampang begitu, kamu tuh bakalan mirip kayak ibu hamil tau. Lihat deh, sekarang kita sedang berdiri di mana,” bisik Falen ke Farah sambil melirik ke arah papan nama rak buku.
Farah pun menoleh ke tulisan yang berada di papan rak buku. Di sana tertulis, ‘Ibu Hamil dan Menyusui’.  Farah terkejut dan refleks melepaskan pegangan tangannya yang ada di perutnya sambil menoleh ke sekitarnya agar tidak ada orang yang menyadari kelakuannya barusan.
“Omaigat! pasti orang-orang bakalan mikir kalo kita ini pasangan muda yang hamil di luar nikah, dan aku sedang minta pertanggung jawaban dari kamu,” gumam Farah.
“Yup,” ucap Falen sambil nyengir kuda dan menepuk-nepuk kepala Farah.
“Oya, urusannya sudah selesai belum? Aku lapar nih,” ucap Farah kemudian dengan tampangnya yang masih memelas.
“Buku yang kucari udah ketemu kok. Aku bayar dulu, udah gitu kita langsung ke Hokben. Bentar yah.”
*KRUUK* Perut Farah berbunyi lagi. Kali ini lebih kencang dan lebih lama. Wajah Farah memerah seketika itu juga. Ia buru-buru menutupi wajahnya dengan buku yang ia pegang.
“Hahaha, kamu ini lucu yah”, Falen pun tertawa dan kembali menepuk-nepuk kepala Farah.
Saat Falen menepuk kepala Farah, Farah merasa diperlakukan seperti anak kecil. Mereka terlihat akrab satu sama lain, walaupun sebenarnya hari ini adalah kali pertama mereka bertemu dan berkenalan. Saat mereka sedang bercanda gurau, ada seorang wanita dengan kulit putih blasteran asia yang melintas di depan mereka.
Wanita asia itu menoleh ke arah Falen sejenak. Kemudian dia terpaku sesaat seolah-olah sedang berpikir atau berusaha mengingat sesuatu. Dengan wajah setengah kaget dan setengah senang wanita asia itu langsung bertanya, “Ah! Fallen-kun?”. Dari bahasanya Farah tahu kalau wanita ini pasti orang Jepang.
Falen yang merasa tak asing lagi dengan suara yang memanggilnya langsung menoleh. Mata Falen terbelalak senang sekaligus terkejut. “Yuko-chan?” ucap Falen dengan nada tidak percaya.
“Ah! Benar kan Falen! Hisashiburi  ne,” ucap wanita Jepang itu yang ternyata bernama Yuko. Sepertinya wanita ini blasteran Jepang-Indonesia atau mungkin pernah tinggal lama di Indonesia, karena bahasa Indonesia Yuko terdengar lancar di telinga Farah.
 “Kamu ada di Indonesia? Sejak kapan?” tanya Falen penasaran.
“Aku lagi berkunjung ke keluarga Okāsan, rasanya sudah lama banget aku nggak main ke Indonesia, apalagi ke Bandung. Kangen banget rasanya,” jelas wanita itu pada Falen.
“Ah, iya. Sudah lama sekali. Kukira kamu nggak akan balik lagi ke Indonesia”.
Farah memperhatikan Yuko dan Falen. Tiba-tiba ada semacam aura khusus di antara mereka berdua. Lalu Farah pun berpikir, apakah sebaiknya aku pergi diam-diam saja? Aku takut mengganggu acara reunian mereka.
“Ah, aku lupa. Maaf ya sudah menganggu kalian,” ucap Yuko sambil melirik ke arah Farah. Baru saja Farah mau kabur ternyata sudah kepergok duluan oleh wanita Jepang itu.
“Eh, enggak apa-apa kok. Santai aja,” ucap Farah kemudian.
“Oh iya, dia ini kenalanku, namanya Farah. Farah kenalin, dia ini Yuko,” Falen memperkenalkn Farah dan Yuko. “Yuko, kamu sibuk gak? Mau makan malam bareng? Kebetulan sekarang aku dan Farah mau ke Hokben nih,” ajak Falen pada Yuko.

#bersambung#


Minggu, 07 April 2013

Fallen into Love (3)


“Sebenernya udah dari kemarin aku sama kak Falen memang ada rencana mau nonton bareng. Supaya dapet kursi, mending kita mesen tiketnya dulu ya,”  jawab Tata. Farah dan Falen hanya menurut saja apa maunya Tata.
Saat mbak-mbak penjual tiket bertanya, “mau pesan tiket untuk berapa orang?”. Tata dengan sigap mengatakan ‘dua Mbak’. Secara otomatis Farah kaget.
“Lho, kok cuma pesen dua? Bukannya kita mau nonton bertiga?”
Sorry banget, Rah, aku baru sadar, jadwal filmnya sampai malam. Ortuku pasti marah kalau aku pulang malam, kamu tahu sendiri kan rumahku jauh banget dari sini. Kalo kamu sih enak, masih ada rumah di Bandung, jadinya nggak perlu balik ke Nangor,” jelas Tata. “Kak Falen, aku titip Farah ya,” lanjutnya.
What!? Dengan seenaknya si Tata main nitipin aku ke kak Falen. Memangnya aku anak hilang? Main kabur aja lagi nih anak. Gila, niat banget sih dia ngejodohin aku sama kak Falen. Sumpah, tega banget. Udah tahu aku naksirnya sama si Ren tapi dia tetep maksa jodohin aku sama cowok lain.
Farah hanya bisa kesal dalam hati. Bingung nanti harus bersikap gimana sama Falen. Parahnya setelah memesan tiket nonton bioskop Tata langsung pergi meninggalkannya bersama Falen begitu saja. Dia bilang bahwa temannya yang lain sedang menunggunya di toko buku Gramedia, seberang BIP. Mereka janjian mau membeli buku referensi untuk bahan skripsi bersama. Farah tahu kalau itu hanyalah akal-akalan Tata saja.
Finally, Farah dan Falen bengong. Mereka hanya saling pandang seolah-olah memaklumi sikap Tata yang memang sengaja banget ingin menjodohkan mereka berdua. Lalu Falen mulai mencairkan suasana, dia mengajak duduk sambil minum kopi di foodcourt.
Falen memesan kopi caramel dan Farah hanya memesan air minum biasa. Mereka memulai percakapan ringan. Seputar sekolah, kuliah, hobi, dan cita-cita. Saat diajak ngobrol ternyata kak Falen seru juga, pikir Farah.
Falen cukup banyak bercerita tentang dirinya. Sewaktu SD dia pernah sekolah di Inggris dan saat itu pernah ada seorang anak perempuan yang naksir dirinya. Saking naksirnya anak itu sampai berani mencium pipinya di hadapan anak-anak lainnya dan para guru. Waktu itu Falen masih terlalu kecil untuk bisa memahami apa maksud peristiwa saat itu.
Falen juga bercerita bahwa dia sangat menyukai hobinya yang sekarang sedang ia tekuni, yaitu bermain biola. Setelah ia merasa cukup bercerita tentang dirinya, sesekali ia bertanya tentang kesibukan farah, tentang hobi Farah, dan lain-lain.
Farah melihat jam tangannya, ternyata waktu tidak terasa telah banyak berlalu. Filmnya sebentar lagi akan dimulai. Farah pun memberi tahu Falen lalu mereka segera pergi ke tempat gedung bioskop.
Saat mereka memasuki ruangan bioskop ternyata lampunya sudah diredupkan, pertanda film akan dimulai. Akan tetapi penonton di luar masih datang berbondong-bondong memasuki area pintu masuk. Karena gelap dan ramai Farah pun sampai terdorong menjauh dari Falen, ia terbawa arus penonton yang berdatangan.
Falen akhirnya menyadari bahwa Farah tidak ada di belakangnya. Ia pun mencari Farah. Saat Falen melihat Farah yang sedang kesusahan menghampiri dirinya, tanpa pikir panjang lagi Falen langsung meraih tangan Farah. Dia pun menarik Farah agar mendekat dengannya.
 Entah apa yang merasuki diri Farah saat ini. Sepertinya Farah merasa bahwa mukanya memerah. Ada rasa hangat dari genggaman tangan Falen yang menjalar hingga ke ujung kepalanya. Hal itu membuat jantungnya jadi berdegup kencang tidak beraturan. Untung saja bioskop sudah gelap, kalau tidak mungkin saja Falen akan tahu bahwa Farah sedang kegeeran dan salah tingkah saat ini. Ketika akhirnya mereka duduk di kursi bioskop Falen pun melepaskan genggamannya. Farah merasa lega karena jantungnya dapat berdegup normal kembali.
Biasanya Farah tidak akan pernah mau pergi menonton berdua dengan laki-laki selain pacarnya sendiri. Tapi masalahnya kali ini ia dijebak! Dan ia tak bisa menghindarinya. Untung saja Falen bukanlah laki-laki freak yang suka lebay seperti lelaki lainnya yang selama ini mengejar-ngejar Farah.  Farah sudah trauma dengan laki-laki freak.
Sebelumnya Farah memiliki banyak teman laki-laki. Ia suka bergaul dengan siapa saja, tidak melihat apakah orang itu kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, bahkan bencong pun tak masalah untuknya. Akan tetapi sejak Farah mulai beranjak remaja dan mengenal ‘cinta’, pertemanan dengan lawan jenis pun jadi tidak semudah dulu lagi. Tidak sedikit laki-laki yang menyatakan cinta padanya walaupun sering kali lelaki itu tidak mengenal Farah dengan baik dan tidak sedikit pula mereka mengejar-ngejar Farah dengan cara yang aneh.
Setiap lelaki yang merasa ‘dekat’ dengan Farah selalu merasa kepedean bahwa cinta mereka akan diterima oleh Farah. Rata-rata teman-teman lelaki yang cintanya ditolak akan pergi menghilang begitu saja. Alasannya sih supaya nggak sakit hati. Tapi ada juga lelaki yang begitu cintanya ditolak dia malah tetap mengejar Farah. Bahkan sampai ada yang meneror segala.
Laki-laki yang mengejar Farah itu beraneka ragam rupanya. Dari yang muda hingga kakek-kakek. Dari yang masih ababil sampai yang udah kelewat matang. Dari yang level teri sampai level kakap.
Pernah pada suatu hari ada laki-laki yang menguntit Farah setiap pulang kuliah. Awalnya Farah tidak sadar kalau ada yang mengikutinya dari belakang. Tapi lama-kelamaan ia menyadarinya juga karena salah seorang temannya merasakan sesuatu yang ganjil saat pulang bersamanya seusai kuliah. Setelah Farah sadar ia pun langsung menegur orang yang menguntitnya itu.
Namun diluar dugaan, lelaki yang menguntitnya malah mengajaknya berkenalan secara langsung. Dia bilang dia naksir Farah sejak pandangan pertama. Alasannya karena wajahnya mirip penyanyi Jepang favoritnya. Gila, freak banget dia, pikir Farah saat itu.
Ada juga kejadian lainnya, yaitu ketika suatu hari yang lumayan mendung Farah hendak pergi ke kampus ITB mengunjungi seorang kenalannya. Saat Farah pergi dengan bis DAMRI dari Jatinangor ia melihat ada bapak-bapak tua yang berumur kisaran 50 tahunan sedang kebingungan mencari tempat duduk. Mungkin karena bapak itu melihat Farah yang sedang duduk sendirian di kursi bis maka dia pun langsung mendekat dan duduk di kursi sebelah Farah yang masih kosong. Saat itu Farah yang lugu hanya tersenyum ramah padanya.
Tak lama kemudian bapak tua itu mengajak Farah mengobrol. Berhubung Farah menghargai orang tua maka obrolannya pun ia tanggapi. Bapak tua itu bertanya kepada Farah mau pergi ke mana, Farah menjawab mau ke ITB, bapak itu berkata bahwa dirinya juga searah dengannya. “Yasudah, kita pergi bersama saja,” ucap si bapak tua. Berhubung Farah berpikir kasihan juga bapak ini, akhirnya Farah mengiyakan ajakan bapak tersebut.
Saat turun dari bis mereka pun menaiki angkot yang sama. Turun dari angkot tiba-tiba saja hujan turun. Untungnya Farah selalu membawa payung. Farah pun menawari bapak itu untuk sepayung berdua. Kasihan kan sudah tua.
Ketika mereka menunggu angkot yang jurusannya melewati kampus ITB tiba-tiba saja bapak tersebut menanyakan pertanyaan yang ganjil kepada Farah, “oya, kamu suka nonton bioskop nggak?”
“Jarang sih, Pak. Memangnya kenapa?” jawab Farah sekenanya.
“Kapan-kapan bapak ajakin nonton bioskop ya,” ajaknya sambil senyum-senyum centil.
Farah terkejut mendengarnya. Farah mengecek telinganya, apa nggak salah denger ya? Tapi ia ingat kalau kemarin dirinya sudah periksa ke dokter spesialis THT di rumah sakit dan hasilnya pun normal. Itu artinya bukan telinga Farah yang salah tapi otak bapak ini yang rusak.
Farah pun hanya terdiam dan tidak menanggapi ucapan bapak itu. Seandainya tujuan mereka tidak searah, mungkin Farah sudah kabur sekarang juga. Sialnya, Farah malah menawari bapak tersebut untuk sepayung berdua dengannya.
Aargh, sial! Mana angkotnya lama lagi, nggak lewat-lewat, batin Farah kesal. Mendadak Farah merasakan ada yang menggenggam tangannya. Ternyata si bapak itu memegang tangannya!?
“Sini, biar saya saja yang pegang payungnya,” ucap si bapak tua.
“Nggak usah Pak, saya bisa sendiri kok,” jawab Farah sambil tersenyum getir, mencoba menutupi rasa ketidaknyamanannya. “Ah, TAKSI!!” teriak Farah spontan saat melihat sebuah taksi melaju melewatinya. “Pak, maaf ya, kayaknya saya mau pakai taksi saja, soalnya saya buru-buru. Saya ada urusan penting. Bapak kalau mau pake payung saya, silahkan saja Pak, dipake aja. Saya bisa beli yang baru lagi kok,” ucap Farah sambil buru-buru berpamitan dan menyerahkan payungnya kepada si bapak tua.
“Ah, nggak usah Dek, saya ikut adek aja pakai taksi,” si pak tua ini masih tetap memaksa.
Sial, sial, siaaaall. Bapak tua itu ikut naik taksi bersama Farah. Ia memaksa masuk dan duduk di sebelah Farah di kursi belakang. Tahu begitu aku mending duduk di kursi depan, dekat sopir!, batin Farah gondok.
Sepanjang perjalanan sang bapak tua meminta nomor ponsel dan alamatnya Farah. Farah pun memberikan nomor ponsel dan alamat palsu kepadanya. Nih kakek-kakek ganjen amat!! Saking nggak kuatnya si Farah meladeni bapak tua ini, akhirnya ia menanyakan keluarga dan anaknya sang bapak. Siapa tahu nantinya sang bapak tua ini akan ingat dengan keluarganya di rumah dan tidak akan ganjen kepada dirinya.
Namun Farah semakin terkejut ketika ia mendengar jawaban dari si bapak tua. Bapak itu bilang kalau dirinya belum menikah dan sedang kuliah S1 di UNPAD. Whaatt?? Udah kakek-kakek seperti ini tapi masih S1? Ohmaigooottt.
Setelah turun dari taksi Farah langsung membayarkan ongkosnya secara tergesa-gesa tapi si bapak tua menepisnya. “Biar saya saja yang bayar,” ucap si pak tua. 

#bersambung#


Fallen into Love (2)


Farah jadi teringat, cara menyetir motornya Tata yang seperti ini mirip sekali dengan cara menyetir tukang ojek langganannya. Setiap Farah telat ke kampus, ia terpaksa memakai jasa tukang ojek. Si tukang ojek pun tahu kalau saat itu Farah sedang terburu-buru makanya dengan gaya yang santai tapi si tukang ojek mampu melaju kencang seperti angin. Sesampainya di kampus, rambut Farah sudah berantakan dan tidak beraturan.
                Sepanjang perjalanan Jatinangor-Bandung ada banyak halangan dan rintangan yang menghadang. Heran deh, dosa apa sih kita? Pikir Farah. Pertama, hujannya yang gede banget. Kedua, jalanan macet semua. Ketiga, beberapa jalan kecil ditutup karena banjir! Trus, kita lewat mana dong?
Setelah mereka beberapa kali memutar arah haluan di jalanan yang sempit –dengan kemungkinan sampai yang mereka anggap lebih cepat dari jalan utama- akhirnya  mereka menyerah dan memilih untuk masuk kembali ke jalan utama. Ajaibnya ternyata di jalan utama yang mereka kira akan lebih parah keadaannya malah nggak ada hujan sama sekali!? Sial.
“Edan, tau gitu dari awal kita pake jalan utama aja ya, Rah. Nggak hujan, nggak macet pula,” celoteh Tata.
Saat itu kondisi Farah dan Tata seperti orang gila saja, cuma motor mereka yang basah dan kotor di antara kendaran-kendaraan lainnya yang ada di jalanan utama tersebut. Hanya mereka yang memakai jas hujan. Apalagi bentuk  jas hujannya konyol banget. Untung saja muka mereka tertutupi oleh helm. Terimakasih saya panjatkan kepada orang yang telah menciptakan helm.  Setidaknya muka saya terhindar dari rasa malu, batin Farah dan Tata.

Akhirnya, sampai  juga Farah dan Tata di tempat parkiran motor mall Bandung Istana Plaza (BIP).  Wajah Farah dan Tata sama-sama kucel karena tersemprot asap knalpot bis dan truk di jalanan. Celana Farah dan baju Tata sama-sama basah karena rembesan hujan.
“Ta, kita ke toilet dulu yuk,” ajak Farah.
“Hayuk, kita ke toiletnya yang di atas aja ya, soalnya kak Falen udah ada di atas katanya,” ucap Tata.
Farah dan Tata menaiki eskalator menuju lantai satu. Belum sempat mereka ke toilet, tiba-tiba saja Tata melihat sosok seorang laki-laki yang nampak familier sedang berdiri di dalam toko buku.
“Rah, kayaknya itu kak Falen deh,” ucap Tata sambil narik-narik lengan kemeja Farah.
“Yang mana?”
 Tata pun menunjukkan jarinya ke arah laki-laki berbadan tinggi yang agak kurus, berkulit putih, berjaket hitam dengan setelan bawahan celana jeans biru pastel, sepatu converse putih, dan membawa tas biola di punggungnya. Rambutnya hitam dan bermodel cepak belah samping, seperti model rambut cowok ala Jepang-Korea.
“Yakin itu dia? Kamu kan belum pernah ketemu dia secara langsung. Lagian, wajahnya beda deh sama di Facebook. Cowok yang ini lebih ganteng,” ucap Farah.
“Aku yakin banget, Rah. Soalnya temen-temen SMA ku yang udah pernah lihat kak Falen secara langsung bilangnya ‘kak Falen itu lebih ganteng aslinya daripada di foto’, gitu. Yaudah, aku coba  miss call aja HPnya buat mastiin,” ucap Tata sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas biru mungilnya.
Sambil memerhatikan Tata menelpon Falen, Farah pun memerhatikan laki-laki berjaket hitam yang berada si seberang mereka. Sepertinya laki-laki itu mengambil sesuatu dari saku celana jeansnya. Ah! Dia mengangkat telpon genggamnya! Batin Farah.
“Halo? Kak Falen udah ada di mana?” tanya Tata kepada kak Falen saat sambungan teleponnya terhubung. “Oh, kak Falen sudah sampai. Di toko buku? Di dalam BIP, di depannya Hypermart? Oh, oke, kita nyusul ke sana ya, daah,” putus Tata. Selesai menutup sambungan telepon, Tata langsung menoleh ke arah Farah dengan penuh semangat. “Tuh kaan, bener! Itu kak Falen. Soalnya cuma cowok itu yang pake tas biola, makanya dari awal aku udah curiga kalo orang itu kak Falen.”
Farah masih terlihat tidak percaya. Ternyata kak Falen itu lebih ganteng aslinya. Foto di FB memang penipuan. Sekarang malah Farah yang panik. Pasalnya, celananya basah, mukanya kucel, rambutnya lepek, nggak sempat dandan pula. Argh. Dengan langkah gontai akhirnya ia terpaksa mengikuti Tata yang berjalan menuju ke arah Falen.
 “Kak Falen!” sahut Tata menyapa kak Falen ketika kami menghampirinya.
“Eh, Tania Tari, ya?” tanya Falen sambil menyebut nama lengkap si Tata.
“Iya, aku Tania. Mantannya adik kak Falen, si Ferdi itu. Panggil aja aku Tata,” jawab Tata. “Ohya, kenalin kak, ini temanku, Farah. Farah, kenalin, ini kak Falen yang udah pernah aku certain sebelumnya,” lanjut Tata sambil memperkenalkan Farah dan Falen.
“Trus, sekarang kita ke mana dulu, Ta?” tanya Farah.
“Mendingan kita ke lantai foodcourt aja yuk. Di sana banyak kursi, jadi kita bisa duduk. Biar lebih enak ngobrolnya,” jawab Tata. “By the way, si kak Falen ganteng banget ih, coba aja kalo aku masih jomblo ya, Rah,” bisik Tata pada Farah.
“Maksud loe? Mau dikemanain kakak gue?” sindir Farah. Tata hanya menanggapinya dengan senyum jahil. Farah tahu kalau Tata hanya bercanda.
Sepanjang perjalanan menuju foodcourt rasanya dilewati dengan gundah gulana oleh Farah. Gimana nggak? Celananya basah. Takutnya Falen mengira ia ngompol. Untungnya hari ini Farah membawa map besar yang berisi modul pelajaran. Lumayan, bisa dipakai untuk menutupi bagian belakang celananya yang basah.
“Kenapa, Rah? Kayaknya ada sesuatu di belakang kamu yang sengaja kamu tutupin, apaan sih?” tanya Falen tiba-tiba. Ternyata dia sadar.
“Eh, nggak.. itu anu.. emm,” Farah bingung mencari alasan.
“Itu loh kak, tadi waktu naik motor, celananya Farah kebasahan air hujan, makanya dia tutupin pake map. Malu kali, hehe,” Tata pun menjawab dengan jahil. Farah langsung memicingkan matanya ke arah Tata namun Tata pura-pura tidak melihatnya.
“Ooh, coba aku lihat,” ucap Falen penasaran.
Saat Falen mulai melirik bagian belakang celana Farah secara refleks Farah memukul kepala Falen dengan map yang dipegangnya. Tidak keras sih, tapi cukup memalukan untuk dilihat. Aargh, bego Farah, Farah kamu begooooo! Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Untungnya Falen tidak marah. Dia hanya menanggapinya dengan bercanda, “wah, bahaya nih. Kepala gua nanti benjol-benjol,” ucapnya. 
Saat sampai di lantai foodcourt, yaitu lantai paling atas dari BIP, Tata bukannya duduk di kursi foodcourt melainkan malah terus berjalan menuju bioskop Cinema 21.
“Kamu ngapain ke sini? Katanya mau ngobrol-ngobrol di foodcourt?” tanya farah.

#bersambung#


Fallen into Love (1)


Cuaca cerah Jatinangor cukup membuat kelenjar keringat Farah bekerja lebih aktif. Belum lagi ditambah perjalanannya menuju kosan dari kampusnya yang dilalui dengan berjalan kaki. Lumayan. Lumayan capek, pikirnya.
Sesampainya di kamar kosannya yang adem, Farah pun langsung merebahkan diri sejenak. Menetralisirkan aliran darah dan oksigen karena ia telah kepanasan sepanjang perjalanan. Tak berapa lama kemudian ponsel di dalam tasnya bergetar. Ada sms masuk. Ternyata dari Tata, sahabatnya.
-Rah, hari ini temenin aku ke Bandung yah. Ssst, nanti kita ketemuan sama kak Falen juga loh. Katanya hari ini dia latihan biola, kita intip yuuk!  ;) -
 Tata sepertinya mau mencomblangkanku dengan orang yang bernama Falen. Padahal dia sudah tahu jelas kalau yang aku taksir adalah si Ren. Ren Andrea adalah teman SMAnya Tata. Sedangkan Falen Rendra adalah kakak dari mantannya Tata yang dulu sering Tata ajak curhat.
Awalnya Tata selalu cerita kepada Farah kalau ada seorang cowok yaitu teman SMAnya yang naksir berat dengannya hingga sekarang. Cowok ini ganteng, populer di sekolah, ibadahnya rajin, dan memiliki banyak bakat. Belum lagi menurut Tata, cowok satu ini karakternya ‘asik’ untuk diajak bergaul. “Ren tuh anaknya seru, rame, kocak banget, Rah. Nggak heran deh kalo banyak cewek yang ngejer-ngejer cintanya dia,” ucap Tata pada suatu hari mengenai Ren.
Aku sempat heran, kalau memang Ren sesempurna yang diceritakan oleh Tata, terus kenapa nggak dia terima saja cintanya si Ren? Saat itu seingat Farah Tata hanya menjawab, ‘cintanya Ren selalu datang di saat yang nggak tepat, Rah’. Apalagi sekarang, hatinya Tata malah kecantol oleh kakaknya Farah, si Joey. Nggak disangka, sekarang teman baikku malah bertunangan dengan kakakku sendiri.
Farah dan Tata berbeda SMA. Kuliah pun beda jurusan. Mereka berkenalan saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampus. Tak disangka, persahabatan yang awalnya hanya terjalin selama sebulan di KKN kini malah terus berlanjut hingga sekarang.
Hubungan pertemanan Farah dan Tata mengalahkan hubungan pertemanannya Farah dengan teman-temannya kampusnya sendiri.  Entah, mungkin karena di kampusnya ia hanyalah mahasiswi yang ‘kupu-kupu’ alias kuliah-pulang-kuliah-pulang, makanya jarang nongkrong dengan yang lain. Soalnya Farah tidak suka nongkrong. Tongkrongan teman-teman kampusnya berbeda aliran dengannya. Menurutnya lebih asik kalau menghabiskan waktu dengan menonton serial drama Korea dan membaca komik atau novel. 
Suatu hari Tata menunjukkan foto-foto SMAnya. Dia pun menunjukkan wajah Ren di foto itu kepada Farah. Foto yang diambil dengan candid camera oleh seorang teman Tata di sekolah. Ternyata memang benar, Ren itu ganteng BANGET. Sekali lagi, B-A-N-G-E-T. Sekali lagi, BANGET!!! Kayaknya sekali lihat juga bencong pun bakalan naksir sama dia.
Seiring berjalannya waktu, Farah pun mulai tertarik dan ketagihan dengan cerita Tata mengenai si Ren. Setiap kali Tata bercerita tentang Ren rasanya Farah seperti sudah mengenalnya sendiri. Semakin hari Farah semakin penasaran dengan orang yang bernama Ren. Ia jadi ingin bertemu dengan Ren secara langsung. Empat mata.
Namun niat awal Tata yang ingin mencomblangkan Farah dengan Ren sepertinya secara tiba-tiba saja meluntur. Entah mengapa semakin kesininya Tata malah mencomblangkan Farah dengan orang lain bernama Falen. Dia hanya bilang, “Rah, kayaknya feeling aku bilang, kamu tuh lebih cocoknya sama si kak Falen. Gak tau kenapa tapi kayaknya kalian bakalan serasi deh.”
Falen Rendra. Kuliah di UNPAD jurusan Ekonomi Manajemen. Umurnya lebih tua setahun dari Farah. Farah dikenalkan kepada Falen oleh Tata lewat Facebook (FB). Bermula dari foto-foto Farah yang di-upload di FB ketika makan malam bersama dengan Tata dan Joey di sebuah restoran Jepang. Farah tak sengaja menandai Tata di foto yang ia upload.
Ternyata foto yang ditandai oleh Farah muncul di beranda FB-nya Falen, karena Falen adalah mutual friend-nya Tata. Walaupun Farah belum menjadi temannya Falen di FB tapi dia bisa melihat foto tersebut, karena Farah tidak mengunci privasi pada pengaturan albumnya. Saat itu Tata bilang gara-gara foto yang Farah upload dengannya di FB akhirnya si kak Falen jadi penasaran dan ingin kenalan dengan Farah. Maka di-add lah FB-nya Farah oleh Falen.
Setelah Farah dan Falen berkenalan di FB, Farah pun mulai mencari tahu tentang Falen. Farah melihat foto-fotonya Falen, melihat keterangan tentang dirinya, melihat teman-temannya, dan lain-lain. Hingga akhirnya Farah menarik kesimpulan sementara tentang Falen.
Dia adalah tipikal anak gaul yang suka banget nongkrong, dia juga suka petualangan bareng temen-temennya, hobinya saat ini bermain musik dan sibuk mengikuti kegiatan orkestra. Foto-foto dirinya kadang ada yang ganteng tapi ada juga yang culun. Wajahnya seperti bunglon. Berubah-rubah di setiap foto dan pose. Kadang aku merasa, apakah dia itu ganteng hanya karena tipuan kamera padahal aslinya culun?
Kembali ke awal, hari ini Tata meminta Farah untuk menemaninya ke Bandung. Sebenarnya Farah malas. Pengennya istirahat dan bermalas-malasan di kosan, tapi apa boleh buat. Di sisi lain Farah juga penasaran dengan sosok si Falen. Farah pun tidak tega kalau harus membiarkan Tata pergi sendirian.
Farah segera beranjak pergi menemui Tata di tempat yang sudah dijanjikan, yaitu di pangkalan bis DAMRI yang sering juga disingkat menjadi ‘PANGDAM’. Tempat satu-satunya bis yang diandalkan masyarakat sebagai sarana transportasi Jatinangor-Bandung. Selain murah bis ini juga praktis, tidak seperti angkot. Kalau naik angkot kita harus beberapa kali ganti angkot agar sampai ke Bandung tetapi kalau dengan bis DAMRI kita bisa langsung turun di Bandung, di depan Universitas Padjadjaran di daerah Dipati Ukur..
Tak berapa lama Farah menunggu Tata di Pangdam, Tata pun datang dengan membawa motor matic berwarna merah menyala.
                “Wew, aku pikir kita bakalan naik bis,” ucap Farah.
               “Sori, Rah. Mending kita naik motor aja biar cepet nyampenya. Nih, kamu pake jaket sama helm punya temenku ya, tadi aku minjem dulu ke mereka,” ucap Tata sambil menyodorkan jaket dan helm yang dibawanya.
                Awalnya selama di perjalanan cuaca yang menyinari mereka masih cerah dan sejuk. Namun lama-lama langit mulai terlihat mendung. Hujan deras pun datang menyerbu. Tata segera menepikan motornya di pinggir jalan dan berteduh di bawah pohon besar.
                “Ta, kamu bawa jas hujan dua, gak?” tanya Farah.
           “Adanya cuma satu, Rah. Tapi, jas hujan ini bentuknya ponco yang bisa dipakai 2 orang,” jawab Tata.
                “Maksud kamu, jas hujan kayak jubah Batman yang lubang untuk kepalanya ada dua, gitu?”
                “Yup!”
                Dengan terpaksa, Farah dan Tata memakai jas hujan Batman-berkepala-dua. Soalnya kalau mereka berteduh dan menunggu sampai hujan reda pastinya akan memakan waktu lama. Hujan derasnya pun tampak tidak akan berhenti dalam waktu yang sebentar. Kalau mereka menunggu hujan reda maka mereka akan terlambat di tempat janjian dengan Falen.
                Tata pun menyetir kembali motornya. Tata menyetir motor dengan lihai. Melewati celah-celah mobil dan bis serta menyalib motor-motor lainnya.  Beberapa kali mereka hampir saja ketabrak kendaraan lain namun karena kelincahan Tata dalam menyetir, nyawa mereka pun masih selamat hingga sekarang.


"Catatan Konyol Nggak Penting" -Job Seeker with Nadya-


Aku punya teman dekat. Namanya dan namaku sama-sama berinisial 'N'. Aku Nidha dan dia Nadya. Orang-orang sering mengira kalau kita adalah saudara. Entah mirip dari mana.

Aku dan Nadya udah berteman sejak kelas 2 SMA. Awalnya dia adalah murid baru. Kebetulan dia mendapatkan tempat duduk di sebelahku, di bangku paling depan dekat dengan papan tulis. 

Kita berdua sering banget ngecengin kakak kelas bareng (soalnya di bangku tempat kita duduk bisa ngelirik keluar kelas dengan jelas, jadinya bisa cuci mata kalo kakak kelas yang kita kecengin sedang mejeng depan kelas~ *haha*), malah kita juga pernah ngecengin adik kelas bareng~ *ssstt* 

Nggak tau kenapa, walopun karakterku dengan Nadya sangat amat berbeda tetapi kita memiliki banyak persamaan dalam hal selera.

Contoh kasus:
Saat aku naksir kakak kelas dari IPA 5, ternyata Nadya juga punya kecengan kakak kelas dari IPA 5. Beda orang tapi masih lingkup satu kelas.

Saat aku bilang pinky boy itu imut, eh ternyata dia juga berpendapat sama.

Saat aku sedang asik merhatiin adik kelas, eh ternyata dia juga punya kecengan adik kelas.

Saat aku pengen kuliah di Bandung, eh ternyata dia juga berencana kuliah di Bandung.

Saat aku tinggal di Bandung, eh ternyata dia juga punya rumah di Bandung.

Saat aku nyari kerja, eh dia juga sama-sama nyari kerja~ 

Saat aku sedang galau, herannya, dia juga sedang galau. Ajaibnya, kasus kegalauan kita 11-12 pula!

Saat aku pengen ikutan fitnes, ternyata dia juga berencana mau fitnes~

Ya ampuun~ jodoh banget lah aku sama dia.

Pertemuan kita bagaikan takdir dari Allah SWT.



Setiap aku sama Nadya jalan bareng, entah itu main bareng atau fitnes bareng atau ngelamar kerjaan bareng, pastinya selaluu aja ketemu kejadian nggak terduga dan kejadian-kejadian konyol.

Dimulai dari mencari pekerjaan bersama.
Saat aku dan dia sama-sama nggak hafal jalan dan akhirnya kita berdua terpaksa naik becak...

Parahnya, tuh becak ngelawan arus kendaraan! Hampir aja kita berdua (plus abang becaknya total jadi tiga orang) keserempet mobil. Muke gilenye lagi, si mobil sedan yang mau nyerempet kita, ternyata dia sengaja doong. Cowok gitu deh. Dasar, kayak nggak pernah liat cewek cakep naek becak aja... *nasiib-nasiib*

Kadang betenya aku sama Indonesia (terutama Bandung) adalah kendaraan seperti becak tuh dianggap remeh. Padahal kan sesekali naek becak tuh seru. Asik. Bisa nikmatin kota Bandung, angin semilir, dan nggak pake polusi. Coba aja kalo aku di Eropa atau di Jepang, becak di sana tuh bener-bener dihargai dan dihormati keberadaannya. Terbukti dari adanya jalur khusus untuk becak dan sepeda.

Yah, tapi gimana pun juga aku orang Indonesia dan masih betah di Indonesia. Cuma ga betahnya kalo sikon tertentu aja~

Gara-gara kejadian becak yang mau keserempet mobil tadi, si abang becak pun memutar arah. Kita ngelewatin area perumahan yang asri dan ada tamannya gitu.

Nah, pas aku sama Nadya ngelewatin taman, suasananya lagi asik banget tuh. Matahari senja yang sejuk, ditambah semilir angin sore yang segar, hehijauan dari tumbuh-tumbuhan, suara anak kecil yang sedang main sama temen-temennya, pokoknya bener-bener asri deh, dan ditambah dengan nggak adanya gangguan dari kendaraan bermotor. Ngebuat sensasi naik becak kita serasa bukan di Indonesia~

Gara-gara suasana lagi bagus, akhirnya aku dan Nadya nggak mau melewatkannya begitu aja. Kita pun mendokumentasikan moment tersebut dengan memotret diri kita sendiri yang sedang naik becak. Gokilnya, saat kita lagi asik foto-foto narsis ternyata timing-nya pas banget sama anak-anak sekolahan yang sedang pulang sekolah. *Langsung nyari kresek buat nutupin muka*.

Gile dah, ini muka malu bangeeuudd~ bingung mau taroh di mana. 

Udah mah naek becak, foto-foto narsis di becak, dilihatin sama anak-anak SMA pula. Entah apa yang nanti mereka pikirkan soal kita  -_____-  *gak-mau-tau-dan-gak-perduli*



Kejadian lainnya,
Saat aku dan Nadya kepanggil untuk interview bareng di daerah entah berantah..

Baru kemarin kita ikutan jobfair, besok harinya kita berdua udah langsung dipanggil untuk ikutan interview bareng. Nah, masalahnya alamat si perusahaannya bener-bener jaaaaauuuuuuhhh banget.

Emang sih ya, nggak sejauh Bandung-Jakarta, tapi masalahnya adalah karena tuh lokasi nggak ada akses kendaraannya makanya berkesan jauh banget. 

FYI, aku dan Nadya belum ada yang bisa nyetir mobil (motor sih bisa tapi nggak berani)~
kita berdua sama-sama belum berani menjalankan kendaraan di jalan raya, paling juga aku beraninya cuma di Bali doang nyetir motor, kalo di Bandung aku ga berani nyetir karena Bandung tuh kota padat dan rawan banget kecelakaan. Dulu pun aku pernah ngalamin kecelakaan motor, dan juga pernah beberapa kali ngelihat kecelakaan mobil *ngelihatnya sambil tutup mata*. Akhirnya itu semua ngebuat keberanianku berkendara makin lama makin menciut saja~

Karena kekuranganku dan Nadya yang sama itulah, akhirnya kita mengandalkan angkotan umum.

Awalnya sih mau pake taxi tapi kalo lihat di peta ternyata letak kantor interviewnya jauh banget, blom ditambah sama macetnya jalanan. Bisa-bisa sebelom kerja kita berdua udah bangkrut duluan.

Well, sebagai orang yang bakalan menjadi manajer keuangan *amin* maka aku dan Nadya berusaha menghemat pengeluaran kita dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu kita menggunakan jasa angkot dan ojek.

Saat sudah tiba di penghujung jalan dengan menggunakan angkot, kita pun bertanya sama sopir angkot. "Bang, kalo mau ke alamat komplek Setra Duta Blok Dago, kita harus pakai apa ya?"

Si abang sopir jawab,"Wah, neng, ke sana mah jauh neng, nggak ada angkot. Paling neng harus pake ojek. Banyak kok tukang ojeknya"

AKu dan Nadya pun turun dari angkot dan mengikuti amanah si sopir angkot. Kita pun mencari-cari pangkalan ojek. Ketemu. Alhamdulillah.

"Bang, ojeknya dua ya," ucapku.

"Wah, neng. Tukang ojek yang lain belom pada dateng. Lagi pada jalan semua euy. Paling kalo mau sama bapak aja atuh, satu motor bertiga. Kalo nggak buru-buru mah bisa aja sih eneng nungguin ojek yang lain datang dulu," jawab si abang ojek.

Aku sama Nadya saling pandang. SATU MOTOR BERTIGA??? 

Aku ngelihat jam tangan. Waktu janjian interview udah sangat mepet. Kayaknya nggak ada waktu lagi. Akhirnya kita pun memutuskan untuk naik ojek bertiga satu motor.

Bayangin aja, aku dan Nadya udah pake baju rapih plus make up, dan dandanan rambut ala salon rumahan. Eh, pas naik ojek semuanya sirna sudah..

belom lagi setelan kantor elit begini kalo naik ojeknya bertiga berasa jadi nggak ada keren-kerennya sama sekali.
-____-

Masih mending satu ojek satu penumpang. Masih ada kesan elit *dikit*.

Tapi, gimana pun juga itulah suka duka dalam memperjuangkan pencarian pekerjaan~ 
:3

Nyari kerja itu kan sama aja kayak nyari jodoh, butuh perjuangan, butuh kecocokkan.

Walopun saat naik ojek bertiga jadi mirip reptil yang sedang lari maraton, belom lagi ditambah sama abang ojek yang tiap kali tikungan berasa mau nyerempet trotoar dengan mantapnya *bikin jantung saya hampir copot*, tapi tetep sih ya semuanya itu berasa seperti pengalaman baru. ^^



Nah, pengalaman lainnya aku dan Nadya yaitu ketika kita sama-sama mau melamar ke bank BRI melalui jasa vendor a.k.a. Outsourching...

Saat itu aku mendapatkan info dari temen bernama Pipit (mirip nama burung) kalo di BRI lagi buka lowongan kerja. Masalahnya saat itu yang sedang bukaan adalah via vendor. Menurut si Pipit, kalo lewat vendor tesnya lebih cepet, kepanggilnya pun cepet. Yaudah, aku sama Nadya iseng-iseng nyobain masukin lamaran ke BRI via vendor. (Walopun pada akhirnya kita nyobain juga via PPS-double deh *hehe*).

Dengan niat bukan pejuang 45, aku dan Nadya bangun agak siangan dan ketemuan di Buah Batu. Niat setengah-setengah kita ngebuat kita berpenampilan 'rapih-ala-kadar-nya' hari ini. Soalnya kita mikirnya 'cuma buat masukin lamaran doang ngapain rapih-rapih?' Kalo ada panggilan interview, baru deh agak rapihan.

Nah, Saat aku datengin kantor si vendor BRI bareng si Nadya, tiba-tiba aja ada teman lama yang nyapa aku.

"Eh, Nida. Lagi ngapain di sini?" tanya temen lamaku, yang ternyata bernama Iqbal *temen kuliah*.

"Eh, kamu.. *awalnya masih agak lupa sama namanya* eh, ngapain di sini? Aku sedang ngelamar kerjaan nih", jawabku. *Ujung-ujungnya aku nggak bisa inget siapa nama temenku itu* 

(mudah-mudahan orangnya nggak baca, hehe, maaf banget ya~)

"Oh, lagi ngelamar kerjaan. Mau masukin posisi apa? Aku kerja di sini. Aku yang nantinya bakalan interview orang-orang yang ngelamar kerjaan," jelas si Iqbal.

Spontan aku dan Nadya pandang-pandangan. Ternyata si Iqbal kerja jadi vendornya BRI, dan dialah yang bakalan menginterview aku dan Nadya.

Saat aku dan Nadya sudah memasukkan amplop ke dalam kotak pos khusus lamaran, tiba-tiba aja sama si Iqbal kotak posnya dibuka dan amplop lamaran kami dia ambil.

"Yaelah, ga perlu masukin ke kotak segala, nanti sama Iqbal kita langsung wawancara aja. Kebetulan lagi sedikit yang ngantri," ucap Iqbal.

"Eh?? sekarang?? masalahnya aku sama temenku lagi nggak ada persiapan, pakaian kita juga nggak rapih nih."

"Santaii, kan baru tahap interview awal."

Beruntung saya punya teman yang baik hati~  ^^

Setelah interview awal *yang pada akhirnya berujung ngerumpi*, kita pun pamitan sama Iqbal. Kita berterimakasih karena udah mau menginterview walopun pakaian dan dandanan kita lagi kacau.

Aku sama Nadya langsung buru-buru sadar kalo sedari tadi kita ditungguin sama seseorang. Orang itu nungguin kita sampe selesai interview. Padahal interviewnya kita lama banget.

Seseorang itu nungguin kita selesai interview bukan karena sekarang giliran dia yang akan diinterview, melainkan karena pulpennya kita pinjem! *hehee* Kalo pulpen yang harganya 2ribuan sih mungkin tuh mbak-mbak yang minjemin pulpennya nggak bakalan keberatan kalo pulpennya dihibahkan padaku dan pada Nadya, tapi karena pulpen yang dia pinjemin itu adalah pulpen mahal *dan bagus banget* makanya dia rela-relain nungguin aku sama Nadya sampe selesai interview~

*Untuk mbak cantik, maaf sudah direpotkan sama Nadya yah~ teman saya satu itu memang begitu*

Padahal kalo mbak itu emang buru-buru, kan dia bisa aja ngetok pintu untuk bicara sama aku dan Nadya. Tapi mungkin aja dia sungkan kali yah~

Iqbal yang ngeliat kejadian itu cuma bisa geleng-geleng kepala. Yah, namanya juga nggak ada persiapan sih~  ;p

Aku jadi nggak enak sama tuh mbak-mbak.


Well, itulah beberapa kejadian konyol yang aku alamin tiap jalan bareng sama si Nadya~ ^^  ada-ada aja~