Minggu, 07 April 2013

Fallen into Love (2)


Farah jadi teringat, cara menyetir motornya Tata yang seperti ini mirip sekali dengan cara menyetir tukang ojek langganannya. Setiap Farah telat ke kampus, ia terpaksa memakai jasa tukang ojek. Si tukang ojek pun tahu kalau saat itu Farah sedang terburu-buru makanya dengan gaya yang santai tapi si tukang ojek mampu melaju kencang seperti angin. Sesampainya di kampus, rambut Farah sudah berantakan dan tidak beraturan.
                Sepanjang perjalanan Jatinangor-Bandung ada banyak halangan dan rintangan yang menghadang. Heran deh, dosa apa sih kita? Pikir Farah. Pertama, hujannya yang gede banget. Kedua, jalanan macet semua. Ketiga, beberapa jalan kecil ditutup karena banjir! Trus, kita lewat mana dong?
Setelah mereka beberapa kali memutar arah haluan di jalanan yang sempit –dengan kemungkinan sampai yang mereka anggap lebih cepat dari jalan utama- akhirnya  mereka menyerah dan memilih untuk masuk kembali ke jalan utama. Ajaibnya ternyata di jalan utama yang mereka kira akan lebih parah keadaannya malah nggak ada hujan sama sekali!? Sial.
“Edan, tau gitu dari awal kita pake jalan utama aja ya, Rah. Nggak hujan, nggak macet pula,” celoteh Tata.
Saat itu kondisi Farah dan Tata seperti orang gila saja, cuma motor mereka yang basah dan kotor di antara kendaran-kendaraan lainnya yang ada di jalanan utama tersebut. Hanya mereka yang memakai jas hujan. Apalagi bentuk  jas hujannya konyol banget. Untung saja muka mereka tertutupi oleh helm. Terimakasih saya panjatkan kepada orang yang telah menciptakan helm.  Setidaknya muka saya terhindar dari rasa malu, batin Farah dan Tata.

Akhirnya, sampai  juga Farah dan Tata di tempat parkiran motor mall Bandung Istana Plaza (BIP).  Wajah Farah dan Tata sama-sama kucel karena tersemprot asap knalpot bis dan truk di jalanan. Celana Farah dan baju Tata sama-sama basah karena rembesan hujan.
“Ta, kita ke toilet dulu yuk,” ajak Farah.
“Hayuk, kita ke toiletnya yang di atas aja ya, soalnya kak Falen udah ada di atas katanya,” ucap Tata.
Farah dan Tata menaiki eskalator menuju lantai satu. Belum sempat mereka ke toilet, tiba-tiba saja Tata melihat sosok seorang laki-laki yang nampak familier sedang berdiri di dalam toko buku.
“Rah, kayaknya itu kak Falen deh,” ucap Tata sambil narik-narik lengan kemeja Farah.
“Yang mana?”
 Tata pun menunjukkan jarinya ke arah laki-laki berbadan tinggi yang agak kurus, berkulit putih, berjaket hitam dengan setelan bawahan celana jeans biru pastel, sepatu converse putih, dan membawa tas biola di punggungnya. Rambutnya hitam dan bermodel cepak belah samping, seperti model rambut cowok ala Jepang-Korea.
“Yakin itu dia? Kamu kan belum pernah ketemu dia secara langsung. Lagian, wajahnya beda deh sama di Facebook. Cowok yang ini lebih ganteng,” ucap Farah.
“Aku yakin banget, Rah. Soalnya temen-temen SMA ku yang udah pernah lihat kak Falen secara langsung bilangnya ‘kak Falen itu lebih ganteng aslinya daripada di foto’, gitu. Yaudah, aku coba  miss call aja HPnya buat mastiin,” ucap Tata sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas biru mungilnya.
Sambil memerhatikan Tata menelpon Falen, Farah pun memerhatikan laki-laki berjaket hitam yang berada si seberang mereka. Sepertinya laki-laki itu mengambil sesuatu dari saku celana jeansnya. Ah! Dia mengangkat telpon genggamnya! Batin Farah.
“Halo? Kak Falen udah ada di mana?” tanya Tata kepada kak Falen saat sambungan teleponnya terhubung. “Oh, kak Falen sudah sampai. Di toko buku? Di dalam BIP, di depannya Hypermart? Oh, oke, kita nyusul ke sana ya, daah,” putus Tata. Selesai menutup sambungan telepon, Tata langsung menoleh ke arah Farah dengan penuh semangat. “Tuh kaan, bener! Itu kak Falen. Soalnya cuma cowok itu yang pake tas biola, makanya dari awal aku udah curiga kalo orang itu kak Falen.”
Farah masih terlihat tidak percaya. Ternyata kak Falen itu lebih ganteng aslinya. Foto di FB memang penipuan. Sekarang malah Farah yang panik. Pasalnya, celananya basah, mukanya kucel, rambutnya lepek, nggak sempat dandan pula. Argh. Dengan langkah gontai akhirnya ia terpaksa mengikuti Tata yang berjalan menuju ke arah Falen.
 “Kak Falen!” sahut Tata menyapa kak Falen ketika kami menghampirinya.
“Eh, Tania Tari, ya?” tanya Falen sambil menyebut nama lengkap si Tata.
“Iya, aku Tania. Mantannya adik kak Falen, si Ferdi itu. Panggil aja aku Tata,” jawab Tata. “Ohya, kenalin kak, ini temanku, Farah. Farah, kenalin, ini kak Falen yang udah pernah aku certain sebelumnya,” lanjut Tata sambil memperkenalkan Farah dan Falen.
“Trus, sekarang kita ke mana dulu, Ta?” tanya Farah.
“Mendingan kita ke lantai foodcourt aja yuk. Di sana banyak kursi, jadi kita bisa duduk. Biar lebih enak ngobrolnya,” jawab Tata. “By the way, si kak Falen ganteng banget ih, coba aja kalo aku masih jomblo ya, Rah,” bisik Tata pada Farah.
“Maksud loe? Mau dikemanain kakak gue?” sindir Farah. Tata hanya menanggapinya dengan senyum jahil. Farah tahu kalau Tata hanya bercanda.
Sepanjang perjalanan menuju foodcourt rasanya dilewati dengan gundah gulana oleh Farah. Gimana nggak? Celananya basah. Takutnya Falen mengira ia ngompol. Untungnya hari ini Farah membawa map besar yang berisi modul pelajaran. Lumayan, bisa dipakai untuk menutupi bagian belakang celananya yang basah.
“Kenapa, Rah? Kayaknya ada sesuatu di belakang kamu yang sengaja kamu tutupin, apaan sih?” tanya Falen tiba-tiba. Ternyata dia sadar.
“Eh, nggak.. itu anu.. emm,” Farah bingung mencari alasan.
“Itu loh kak, tadi waktu naik motor, celananya Farah kebasahan air hujan, makanya dia tutupin pake map. Malu kali, hehe,” Tata pun menjawab dengan jahil. Farah langsung memicingkan matanya ke arah Tata namun Tata pura-pura tidak melihatnya.
“Ooh, coba aku lihat,” ucap Falen penasaran.
Saat Falen mulai melirik bagian belakang celana Farah secara refleks Farah memukul kepala Falen dengan map yang dipegangnya. Tidak keras sih, tapi cukup memalukan untuk dilihat. Aargh, bego Farah, Farah kamu begooooo! Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Untungnya Falen tidak marah. Dia hanya menanggapinya dengan bercanda, “wah, bahaya nih. Kepala gua nanti benjol-benjol,” ucapnya. 
Saat sampai di lantai foodcourt, yaitu lantai paling atas dari BIP, Tata bukannya duduk di kursi foodcourt melainkan malah terus berjalan menuju bioskop Cinema 21.
“Kamu ngapain ke sini? Katanya mau ngobrol-ngobrol di foodcourt?” tanya farah.

#bersambung#


Tidak ada komentar:

Posting Komentar