Farah jadi teringat, cara menyetir motornya Tata yang
seperti ini mirip sekali dengan cara menyetir tukang ojek langganannya. Setiap
Farah telat ke kampus, ia terpaksa memakai jasa tukang ojek. Si tukang ojek pun
tahu kalau saat itu Farah sedang terburu-buru makanya dengan gaya yang santai
tapi si tukang ojek mampu melaju kencang seperti angin. Sesampainya di kampus,
rambut Farah sudah berantakan dan tidak beraturan.
Sepanjang
perjalanan Jatinangor-Bandung ada banyak halangan dan rintangan yang
menghadang. Heran deh, dosa apa sih kita?
Pikir Farah. Pertama, hujannya yang gede banget. Kedua, jalanan macet semua.
Ketiga, beberapa jalan kecil ditutup karena banjir! Trus, kita lewat mana dong?
Setelah mereka beberapa kali memutar arah haluan di
jalanan yang sempit –dengan kemungkinan sampai yang mereka anggap lebih cepat
dari jalan utama- akhirnya mereka
menyerah dan memilih untuk masuk kembali ke jalan utama. Ajaibnya ternyata di
jalan utama yang mereka kira akan lebih parah keadaannya malah nggak ada hujan
sama sekali!? Sial.
“Edan, tau gitu dari awal kita pake jalan utama aja
ya, Rah. Nggak hujan, nggak macet pula,” celoteh Tata.
Saat itu kondisi Farah dan Tata seperti orang gila
saja, cuma motor mereka yang basah dan kotor di antara kendaran-kendaraan
lainnya yang ada di jalanan utama tersebut. Hanya mereka yang memakai jas
hujan. Apalagi bentuk jas hujannya
konyol banget. Untung saja muka mereka tertutupi oleh helm. Terimakasih saya panjatkan kepada orang yang
telah menciptakan helm. Setidaknya muka
saya terhindar dari rasa malu, batin Farah dan Tata.
Akhirnya, sampai juga Farah dan Tata di tempat parkiran motor
mall Bandung Istana Plaza (BIP). Wajah Farah
dan Tata sama-sama kucel karena tersemprot asap knalpot bis dan truk di jalanan.
Celana Farah dan baju Tata sama-sama basah karena rembesan hujan.
“Ta, kita ke toilet dulu yuk,” ajak Farah.
“Hayuk, kita ke toiletnya yang di atas aja ya, soalnya
kak Falen udah ada di atas katanya,” ucap Tata.
Farah dan Tata menaiki eskalator menuju lantai satu.
Belum sempat mereka ke toilet, tiba-tiba saja Tata melihat sosok seorang
laki-laki yang nampak familier sedang
berdiri di dalam toko buku.
“Rah, kayaknya itu kak Falen deh,” ucap Tata sambil
narik-narik lengan kemeja Farah.
“Yang mana?”
Tata pun
menunjukkan jarinya ke arah laki-laki berbadan tinggi yang agak kurus, berkulit
putih, berjaket hitam dengan setelan bawahan celana jeans biru pastel, sepatu
converse putih, dan membawa tas biola di punggungnya. Rambutnya hitam dan
bermodel cepak belah samping, seperti model rambut cowok ala Jepang-Korea.
“Yakin itu dia? Kamu kan belum pernah ketemu dia
secara langsung. Lagian, wajahnya beda deh sama di Facebook. Cowok yang ini lebih ganteng,” ucap Farah.
“Aku yakin banget, Rah. Soalnya temen-temen SMA ku
yang udah pernah lihat kak Falen secara langsung bilangnya ‘kak Falen itu lebih
ganteng aslinya daripada di foto’, gitu. Yaudah, aku coba miss
call aja HPnya buat mastiin,” ucap Tata sambil mengeluarkan ponsel dari
dalam tas biru mungilnya.
Sambil memerhatikan Tata menelpon Falen, Farah pun
memerhatikan laki-laki berjaket hitam yang berada si seberang mereka.
Sepertinya laki-laki itu mengambil sesuatu dari saku celana jeansnya. Ah! Dia mengangkat
telpon genggamnya! Batin Farah.
“Halo? Kak
Falen udah ada di mana?” tanya Tata kepada kak Falen saat sambungan teleponnya
terhubung. “Oh, kak Falen sudah sampai. Di toko buku? Di dalam BIP, di depannya
Hypermart? Oh, oke, kita nyusul ke
sana ya, daah,” putus Tata. Selesai menutup sambungan telepon, Tata langsung
menoleh ke arah Farah dengan penuh semangat. “Tuh kaan, bener! Itu kak Falen.
Soalnya cuma cowok itu yang pake tas biola, makanya dari awal aku udah curiga
kalo orang itu kak Falen.”
Farah masih
terlihat tidak percaya. Ternyata kak
Falen itu lebih ganteng aslinya. Foto di FB memang penipuan. Sekarang malah
Farah yang panik. Pasalnya, celananya basah, mukanya kucel, rambutnya lepek,
nggak sempat dandan pula. Argh. Dengan
langkah gontai akhirnya ia terpaksa mengikuti Tata yang berjalan menuju ke arah
Falen.
“Kak Falen!” sahut Tata menyapa kak Falen
ketika kami menghampirinya.
“Eh, Tania
Tari, ya?” tanya Falen sambil menyebut nama lengkap si Tata.
“Iya, aku
Tania. Mantannya adik kak Falen, si Ferdi itu. Panggil aja aku Tata,” jawab
Tata. “Ohya, kenalin kak, ini temanku, Farah. Farah, kenalin, ini kak Falen
yang udah pernah aku certain sebelumnya,” lanjut Tata sambil memperkenalkan
Farah dan Falen.
“Trus,
sekarang kita ke mana dulu, Ta?” tanya Farah.
“Mendingan
kita ke lantai foodcourt aja yuk. Di
sana banyak kursi, jadi kita bisa duduk. Biar lebih enak ngobrolnya,” jawab
Tata. “By the way, si kak Falen
ganteng banget ih, coba aja kalo aku masih jomblo ya, Rah,” bisik Tata pada
Farah.
“Maksud loe?
Mau dikemanain kakak gue?” sindir Farah. Tata hanya menanggapinya dengan senyum
jahil. Farah tahu kalau Tata hanya bercanda.
Sepanjang
perjalanan menuju foodcourt rasanya
dilewati dengan gundah gulana oleh Farah. Gimana nggak? Celananya basah. Takutnya
Falen mengira ia ngompol. Untungnya hari ini Farah membawa map besar yang
berisi modul pelajaran. Lumayan, bisa dipakai untuk menutupi bagian belakang
celananya yang basah.
“Kenapa, Rah? Kayaknya
ada sesuatu di belakang kamu yang sengaja kamu tutupin, apaan sih?” tanya Falen
tiba-tiba. Ternyata dia sadar.
“Eh, nggak..
itu anu.. emm,” Farah bingung mencari alasan.
“Itu loh kak,
tadi waktu naik motor, celananya Farah kebasahan air hujan, makanya dia tutupin
pake map. Malu kali, hehe,” Tata pun menjawab dengan jahil. Farah langsung
memicingkan matanya ke arah Tata namun Tata pura-pura tidak melihatnya.
“Ooh, coba aku
lihat,” ucap Falen penasaran.
Saat Falen
mulai melirik bagian belakang celana Farah secara refleks Farah memukul kepala
Falen dengan map yang dipegangnya. Tidak keras sih, tapi cukup memalukan untuk
dilihat. Aargh, bego Farah, Farah kamu
begooooo! Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Untungnya Falen
tidak marah. Dia hanya menanggapinya dengan bercanda, “wah, bahaya nih. Kepala gua
nanti benjol-benjol,” ucapnya.
Saat sampai di
lantai foodcourt, yaitu lantai paling
atas dari BIP, Tata bukannya duduk di kursi foodcourt
melainkan malah terus berjalan menuju bioskop Cinema 21.
“Kamu ngapain
ke sini? Katanya mau ngobrol-ngobrol di foodcourt?”
tanya farah.
#bersambung#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar