Rabu, 10 April 2013

Fallen in Love (4)


Farah sudah tidak perduli lagi. Pokoknya saat itu juga dirinya ingin segera pergi dari kakek-kakek tua-ganjen ini! Katika si pak tua sedang membayar ongkos taxi Farah langsung memanfaatkan momen itu untuk kabur. Dengan seribu alasan si bapak tua itu memanggil Farah karena ingin terus mengekor dekat dengannya. Tapi sepertinya walaupun pak tua itu memanggil Farah berkali-kali, hati Farah tidak bergeming, Farah berpura-pura tidak medengarnya dan terus saja berjalan cepat tanpa menoleh.

 Ah, ternyata aku melamun, batin Farah begitu tersadar dari lamunannya.
Saat ini Farah masih berada di tengah-tengah acara menonton bioskop bersama Falen. Sebenarnya film yang sedang mereka tonton sekarang lumayan bagus. Berceritakan mengenai jaman yunani kuno. Hanya saja wangi parfum dari tubuhnya Falen membuat Farah jadi susah untuk berkonsentrasi dan malah membuatnya melamun. Lama-lama aku bisa ketiduran di sini.

Entah sejak kapan film itu berakhir, Farah langsung membuka matanya dan segera berdiri dari tempat duduknya. Sial, aku ketiduran! Farah mengelap air liurnya yang masih menempel di ujung bibir dengan punggung tangannya. Buru-buru ia keluarkan tisu dari dalam tasnya dan melap tangannya serta bibirnya dengan tisu tersebut. Ah~ hancur sudah reputasiku di depan cowok ini. Dia pasti akan memandangku rendah. Tapi sudahlah, toh, sampai saat ini aku masih tetap suka sama Ren.
Falen hanya tersenyum geli melihat gelagat Farah yang panik. Dia tidak berkomentar apa-apa. Justru itulah yang Farah takutkan. Semakin tidak berkomentar seseorang, semakin ia tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh orang tersebut. Apa jangan-jangan dia sudah mengejekku diam-diam?
“Ohya, kamu habis ini ada acara lagi nggak?” tanya kak Falen pada Farah.
“Nggak ada, kenapa kak?”
“Mending kita makan malam aja dulu, di seberang BIP ada Hoka-hoka Bento. Kita makan di sana aja. Tapi sebelumnya kita mampir dulu ke Gramedia ya.”
Farah hanya menganggukkan kepala. Tanda menyetujui ajakan Falen.
Ternyata di luar sedang hujan. Untungnya seperti biasa, Farah selalu membawa payung ke mana-mana.  Farah dan Falen pun memakai satu payung berdua.
Sepertinya payungku ini sangat kecil untuk dipakai berdua, pikir Farah begitu memakai payungnya bersama Falen. Pundak kiri Farah tidak cukup tertutupi oleh payung, alhasil bajunya jadi basah. Farah mencoba mendekatkan diri ke Falen tetapi tetap sama saja, ia masih kehujanan.
“Kak Falen, payungnya kurang ke kiri nih, pundakku masih kehujanan, huhu, kamu kan enak pake jaket, jadinya nggak kebasahan,” Farah merengek.
“Oh, sori, sori,” jawab Falen kalem.
 Hujan semakin deras, Farah langsung memegang tangan Falen sekilas dan menariknya pelan. Farah memberikan isyarat kepada Falen agar dirinya segera mempercepat langkah kakinya. Ketika harus menyebrangi jalan raya giliran tangan Falen yang memegang tangan Farah duluan. Falen bermaksud untuk melindungi Farah saat mereka sedang menyeberang jalanan raya yang kendaraannya sering melaju cepat dan kurang toleran terhadap pejalan kaki.
Entah mengapa pada moment seperti ini waktu seakan berjalan melambat di mata Farah. Tetesan hujan yang jatuh bagaikan peluru yang bergerak melambat seperti salah satu adegan di film The Matrix.
Farah juga teringat dengan salah satu adegan lainnya di sebuah film Drama Korea. Seorang tokoh wanita yang sedang berjalan berdua di bawah hujan bersama dengan tokoh pria pasangannya yang tampan rupawan. Di dalam adegan itu tokoh wanitanya memakai payung bersama dengan sang tokoh pria. Adegan itu adalah adegan yang romantic di mana si tokoh pria melindungi si tokoh wanita dari hujan. Ditambah dengan efek latar belakang dan backsound lagu yang lembut beraliran jazz. 
Saat ini Farah merasa bahwa dirinya adalah tokoh wanita yang ada di film drama Korea tersebut, sedangkan Falen adalah tokoh prianya. Detik itu juga Farah melihat dengan seksama sosok  Falen yang berada di sebelahnya. Falen terlihat sangat tampan di mata Farah. Terlihat jelas sekali.
Kenapa jantungku jadi berdebar begini ya?

Memasuki gedung Gramedia dengan sebagian baju yang basah membuat Farah kedinginan. Falen sepertinya sengaja berjalan agak menjauh dari Farah agar dirinya terhindar dari omelan Farah, berkat Falen kini Farah menjadi pusat perhatian karena bajunya basah kuyup.
Gara-gara kak Falen nggak megang payung dengan benar aku jadi basah beginiii, huuuft. Benar-benar tidak bertanggung jawab. Seandainya dia emang cowok sejati seenggaknya dia bakalan meminjamkan jaketnya buatku.  
*KRUUK*, perut Farah berbunyi cukup keras. Membuat beberapa orang yang berada di dekatnya menoleh kepadanya. Farah lupa bahwa sejak siang ia belum makan apa-apa. Farah yang wajahnya memerah karena diperhatikan orang langsung buru-buru pergi menyusul Falen yang sedang berdiri di salah satu deretan rak buku dekat tangga.
Farah memasang wajah merengek dan memelas di hadapan Falen. Menunjukkan bahwa  mood-nya sedang kesal. Ia ingin agar Falen meminta maaf padanya karena telah membuat bajunya basah. Kalau ia sampai masuk angin maka ia akan menyalahkan Falen. Apalagi perut Farah masih kosong maka kemungkinan ia terkena masuk angin jadi lebih besar.
“Kak Faleen~” rengek Farah dengan tampang kusut dan memelas.
Falen menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu melihat ke arah sumber  suara.
Belum sempat Farah ingin mengomeli Falen, Falen sudah bicara duluan, “Rah, kamu tahu gak?” tanyanya langsung.
“Apa?” ucap Farah polos sambil memegang perutnya yang lapar.
“Kalo kamu pasang tampang begitu, kamu tuh bakalan mirip kayak ibu hamil tau. Lihat deh, sekarang kita sedang berdiri di mana,” bisik Falen ke Farah sambil melirik ke arah papan nama rak buku.
Farah pun menoleh ke tulisan yang berada di papan rak buku. Di sana tertulis, ‘Ibu Hamil dan Menyusui’.  Farah terkejut dan refleks melepaskan pegangan tangannya yang ada di perutnya sambil menoleh ke sekitarnya agar tidak ada orang yang menyadari kelakuannya barusan.
“Omaigat! pasti orang-orang bakalan mikir kalo kita ini pasangan muda yang hamil di luar nikah, dan aku sedang minta pertanggung jawaban dari kamu,” gumam Farah.
“Yup,” ucap Falen sambil nyengir kuda dan menepuk-nepuk kepala Farah.
“Oya, urusannya sudah selesai belum? Aku lapar nih,” ucap Farah kemudian dengan tampangnya yang masih memelas.
“Buku yang kucari udah ketemu kok. Aku bayar dulu, udah gitu kita langsung ke Hokben. Bentar yah.”
*KRUUK* Perut Farah berbunyi lagi. Kali ini lebih kencang dan lebih lama. Wajah Farah memerah seketika itu juga. Ia buru-buru menutupi wajahnya dengan buku yang ia pegang.
“Hahaha, kamu ini lucu yah”, Falen pun tertawa dan kembali menepuk-nepuk kepala Farah.
Saat Falen menepuk kepala Farah, Farah merasa diperlakukan seperti anak kecil. Mereka terlihat akrab satu sama lain, walaupun sebenarnya hari ini adalah kali pertama mereka bertemu dan berkenalan. Saat mereka sedang bercanda gurau, ada seorang wanita dengan kulit putih blasteran asia yang melintas di depan mereka.
Wanita asia itu menoleh ke arah Falen sejenak. Kemudian dia terpaku sesaat seolah-olah sedang berpikir atau berusaha mengingat sesuatu. Dengan wajah setengah kaget dan setengah senang wanita asia itu langsung bertanya, “Ah! Fallen-kun?”. Dari bahasanya Farah tahu kalau wanita ini pasti orang Jepang.
Falen yang merasa tak asing lagi dengan suara yang memanggilnya langsung menoleh. Mata Falen terbelalak senang sekaligus terkejut. “Yuko-chan?” ucap Falen dengan nada tidak percaya.
“Ah! Benar kan Falen! Hisashiburi  ne,” ucap wanita Jepang itu yang ternyata bernama Yuko. Sepertinya wanita ini blasteran Jepang-Indonesia atau mungkin pernah tinggal lama di Indonesia, karena bahasa Indonesia Yuko terdengar lancar di telinga Farah.
 “Kamu ada di Indonesia? Sejak kapan?” tanya Falen penasaran.
“Aku lagi berkunjung ke keluarga Okāsan, rasanya sudah lama banget aku nggak main ke Indonesia, apalagi ke Bandung. Kangen banget rasanya,” jelas wanita itu pada Falen.
“Ah, iya. Sudah lama sekali. Kukira kamu nggak akan balik lagi ke Indonesia”.
Farah memperhatikan Yuko dan Falen. Tiba-tiba ada semacam aura khusus di antara mereka berdua. Lalu Farah pun berpikir, apakah sebaiknya aku pergi diam-diam saja? Aku takut mengganggu acara reunian mereka.
“Ah, aku lupa. Maaf ya sudah menganggu kalian,” ucap Yuko sambil melirik ke arah Farah. Baru saja Farah mau kabur ternyata sudah kepergok duluan oleh wanita Jepang itu.
“Eh, enggak apa-apa kok. Santai aja,” ucap Farah kemudian.
“Oh iya, dia ini kenalanku, namanya Farah. Farah kenalin, dia ini Yuko,” Falen memperkenalkn Farah dan Yuko. “Yuko, kamu sibuk gak? Mau makan malam bareng? Kebetulan sekarang aku dan Farah mau ke Hokben nih,” ajak Falen pada Yuko.

#bersambung#


Tidak ada komentar:

Posting Komentar